Monday, 30 March 2009

Aku ingin Keluarga yang Bahagia




Keluargaku masih lengkap, ada bapak, ibu, kakak dan 2 orang adek. Satu kakakku telah lebih dahulu mininggalkan dunia ini karena sakit yang seketika itu parah, dua bulan sakit dan akhirnya meninggal.

Aku ingin keluarga yang bahagia, itu merupakan impianku sejak kecil. Sering kali aku menganggap keluarga ini kurang harmonis. Perasaan ini telah timbul lama sebenarnya namun baru kali ini aku berani menuliskannya. Sebenarnya dulupun pernah namun aku buang karena tulisanku ketahuan.

Dulu kalau tak salah ingat masa SMP aku pernah merasa dianak tirikan. Karena sering aku lihat ibuku lebih menyukai kakaku (mas Anton) yang telah meninggal dari pada aku. Tiap berangkat sekolah ditanyain dan sering dibanggakan. Ternyata perasaan itu tak hanya aku yang merasakannya. Kakakku yang pertama juga merasakan hal sepertiku. Pernah dulu dia marah dan sampai mempertanyakan hal tersebut. seiring waktu berjalan, dan akupun mulai bisa berfikir jernih ternyata anggapan itu lenyap. Aku sadar ibuku memang akan lebih memperhatikan anak yang memang lebih membutuhkan perhatian sampai-sampai yang lain bisa saja terabaikan, itu nggak masalah bagiku.

Namun, ada yang sampai saat ini aneh bagiku. Kakakku dan aku pula merasahan hal yang sama dengan sikap ibuku yang sama sekali ga friendly pada anggota keluarganya sendiri. Padahal dia sangat baik dengan orang lain. Contohnya, dia suka bicara dengan nada keras, suka mbentak dan raut mukanya tak menampakkan kehangatan. Mungkin ini memang bawaan dari lahir, udah tabiatnya gitu kali ya? Namun ternyata semua, baik kakakku, adeku bahkan bapakku sendiri sebenarnya mempermasalahkan hal ini. Aku masih ingat dulu pernah ada kejadian, waktu itu aku masih kecil, entah karena apa aku nangis lama banget sambil tiduran dikursi meja makan yang tertata. Tak sengaja aku mecahin gelas dan ternyata gelas milik sodara sebalah, seketika itu pula aku dimarahin habis-habisan sampai tetangga sebalah mendengarnya dan akhirnya pemilik gelaspun datang dan mengatakkan tak apa-apa namun ibuku tetap saja memarahiku sampai sore.

Sebenarnya keluargaku jarang sekali bertengkar, dan jika bertengkarpun hanya saling diam. Waktu SMA dulu aku sering kali didiemin ibuku, Cuma gara-gara nggak boleh pacaran namun akhirnya aku punya pacar. Lucu lagi kalau bapak sama ibu yang lagi berengkar, sama juga hanya diam. Kadang aku kasihan juga sama ibuku karena sering kali dipecundangi bapaku. Maklum sisa budaya patriarkinya masih sangat kuat jadi sebagaimanapun perjuangan ibu dan anak-anaknya mempertahankan suatu hal pasti tetap saja bapak yang paling menang. Namun pada akhirnya ibu ku bisa diam seribu kata sampai berhari-hari.

Jujur saja dari lima anak dikeluargaku ini hampir semua menjadi pribadi yang sangat individual termasuk aku juga. Mas Anton (kakakku yang telah meninggal) dulu sering tak pulang kerumah karna mungkin memang suasana rumah yang jauh dari ketenangan. Semua orang sibuk diluar dan malas untuk pulang kerumah. Paling betah dirumah 3 hari itu pun terhitung sudah sangat lama.
Aku sendiri kadang bosan dirumah karena sebenarnya malas melihat pemandangan dan kelakuan yang demikian. Pernah satu bulan yang lalu, mba iparku marah karena tak bisa menerima sikap ibuku yang demikian. Ibuku sendiri sampai nangis karena diomelin balik sama mba iparku itu. Tapi yang aku heran, sampai ada pertengkaran yang demikian namun ibuku tak juga mengubah sikapnya itu.

Aku sendiri kadang merasa kebal dengan sikap ibuku yang demikian. Namun kadang aku kasihan melihat adek-adeku. Tiap pagi sebelum berangkat sekolah sudah dijejali dengan omelan-omelan kecil. Kadang adeku yang SMP tak peduli dengan ocehan ibuku. Namun adeku yang paling kecil kadang menangis.

Dan barusan aku kekamar ibuku, menanyakan perihal selamatan 40 hari kematian kakakku akan dilaksanakan pada hari apa. Dan seperti yang biasanya, dia diam sejenak dengan muka yang musam, setelah itu dia jawab ‘katanya malam selasa!’ tentunya dengan nada khasnya yang ketus. Dan pada detik ini sebenarnya aku ingin mengatakan semua kegelisahanku ini, namun aku masih takut. Takut malah balik diomelin dan dikira menggurui orang tua. Bagaimana ya?

Suara Itu




Ayumi, sosok wanita yang baru saja beranjak dewasa, dia sangat cantik. Kala menapaki sisi kedewasaan, kadang ia mengalami kebingungan yang teramat. Dia sosok wanita yang cukup tegar dengan semua keadaan keluarga dan kehidupan yang kadang kejam. Dia bukan seorang yang kaya raya atau pun miskin. Namun kadang kesulitan yang menimpa keluarganya membuatnya banyak berpikir tentang berbagai hal yang kadang tak terbayangkan oleh kebanyakan orang.

Dingin malam menusuk sampai ketulangnya, ia pun tak bisa memejamkan kedua matanya. Terkadang sampai larut malam, ia hanya termenung melihat langit-langit kamar yang putih yang tak berubah. Lamunan panjang selalu menghinggapi tiap malamnya, yang kadang membuatnya tak bisa bangun pagi.

Pada suatu malam, ia menerima sebuah tellphone dari no yang tak ia kenal. Beberapa saat ia biarkan handphonenya berbunyi. Setelah beberapa lama akhirnya ia pun mengangkat telephone itu. Awalnya ia tak mendengar apapun. Setelah beberapa lama barulah ada suara laki-laki menyapanya. Suara itu tak asing baginya. Ya, ternyata mantan pacarnya Riyu yang kadang menghubunginya tengah malam. Laki-laki itu menyapa dan melontarkan beberapa pertanyaan, namun Ayumi hanya menjawab seperlunya dengan nada datar.

Beberapa saat kemudian ia mendengar ada suara lain dibalik suara Riyu. Ia pun tak terlalu memperhatikan suara itu. Namun suara itu semakin ketara. Suara itu mengingatkannya pada seseorang yang tak asing pula. Ayumi bimbang. Sejenak diam, Riyu pun melontarkan peranyaan lain, seperti memberi petunjuk. Ayumi pun semakin bimbang. Ia semakin tertekan. Ayumi langsung menjauhkan handphonenya dari telingga. Ia pun semakin bimbang. Ia tak kuasa mendengar suara itu. Dan Riyu pun akhirnya menutup telephonenya.

Malam itu Ayumi sangat kacau. Berbagai hal berkecambuk dalam otaknya. Ia sedih, ia bimbang, ia merasa tak berdaya. Ia pun meneteskan beberapa air matanya. Ia sedih, kenapa dimasa kedewasaannya ia tetap bergantung pada orang tuanya dan tak bisa berbuat apa-apa. Ia sangat takut, takut mengecewakan semuanya. Suara itu, menghantuinya. Ia ingat betapa berat hidup ini, ia ingat beapa keras perjuangan orang tuanya sampai bisa membesarkannya sampai saat ini.

Ayumi punya impian yang cukup tinggi, namun ia ragu apa impiannya bisa ia capai. Semakin hari, dunia serasa semakin berat. Keberuntungan yang dianggap selalu berpihak padanya pun ia rasa telah jauh. Sering ia hanya bisa menangis. Menangisi dunia yang terasa semakin berat ditiap pertambahan umurnya.[]

Dia itu sangat Jahat




Tak lama lagi hujan pasti akan turun. Awan yang begitu gelap, petir pun terus menyambar apapun yang ditemuinya dilangit. Mungkin alam sedang gelisah. Kegelisahan yang tak pernah usai seperti diriku ini.

Sekitar dua bulan yang lalu, situasi ini sama ketika aku berkunjung kerumah Wiwied, mantan pacarku. Langit begitu gelap, memberi tanda kegelapan hidupku waktu itu. Aku tahu dia selingkuh. Tapi aku diam. Karena memang aku tak mengharap dia mengakui itu semua.

Aku takut. Ketakutanku ini membuat aku bisu. Dia melambaikan tangannya padaku, sepertinya dia amat senang menyambut kedatanganku. Secapat kilat diapun membawaku kerumahnya. Dia sangat hangat waktu itu. Namun aku tetap bisu. Aku kecawa dengan keadaan ini. Tiap aku datang kerumahnya aku masih menemui foto yang katanya mantannya. Dan tiap bercerita aku seperti mendengarkan cerita-cerita horror. Haror tentang teman perempuan yang sering main kekomplek itu.

Persis di depan rumahnya ada sebuah bangunan kecil dari bambu yang mirip seperti rumah panggung. Rumah itu terdiri dari dua bilik. Cat merah menghiasi seluruh bangunan itu. Aku sendiri belum pernah masuk kedalam tempat mungil yang katanya selalu rame ditiap sore dan malam itu. Katanya, ada seorang perempuan dari lain RW yang suka main disitu, lia namanya. Kata dia Lia anak yang cukup supel dan enakkan. Entah enakkan yang seperti apa. Hampir semua laki-laki yang suka nongkrong disitu tahu dan mengenal baik dia.

Kata Wiwied dia juga suka minum, alcohol maksudnya. Pernah suatu ketika ibunya mencarinya kesitu. Karena dua hari dia tak pulang. Sentak ibunya kaget setengah mati dan tak bisa marah melihat anaknya yang keluar dalam keadaan mabuk berat. Ibunyapun langsung membawanya pulang. Dan yang lebih mengerikan lagi katanya dia suka digilir (ML) oleh semua laki-laki yang berada dikomplek itu. Ya, Wiwied juga mungkin. Tapi dia mengelak didepanku. Dan itu membuatku takut.

Beberapa saat kemudian dia menawariku sekaleng bir, namun aku menolaknya. Diapun marah, marah karena aku menolak pemberiannya. Aku terus mencoba menenangkannya, namun dia tetap marah.

Sepuluh menit kemudian aku diantarkannya pulang kerumah, entu dengan perasaan yang kecewa. Aku pun kecewa, hanya karena bir dia semarah itu.

Keesokkan harinya aku beranikan diri untuk menemuinya. Namun aku tak menjumpainya dirumah. Akhirnya aku menuliskan sebuah pesan singkat yang intinya aku ingin mengakhiri hubungan ini. Aku langsung pulang, aku hanya menemui kakak perempuannya yang hari itu kebetulan sedang ada dirumah. Diapun sempat membaca pesanku tadi, dan dengan nada sok keibuannya dia bertanya ‘ kenapa, ada apa dengan kalian? Aku hanya menjawab dengan senyum sinisku.
Malamnya aku bertemu dengan salah satu anak yang sediki banyak mengenal Wiwied. Dan aku menceritakan semuanya padanya. diapun mendukung keputusanku untuk memutuskan Wiwied karena memang katanya dia itu terbilang cukup nakal.

Aku lega telah melepasnya. Aku senang. Dua minggu kemudian Wiwied menemuiku dirumah. Untuk meminta penjalasanku. Setelah beberapa saat aku jelaskan dia pun hanya mengatakan maaf. Dan dia ingin memperbaiki dan memintaku untuk kembali. Wiwied masih sering kerumahku, walaupun sekarang aku hanya menganggapnya teman. Suatu hari dia mengantarkan sebuah undangan pernikahan kakaknya. Akupun datang keundangan itu. Disana ada seorang perempuan yang sekilas aku tahu, nungkin kekasih Wiwied. Diapun menyambutku, ‘tamu istimewa ni?’ aku tetap diam dan tak ambil pusing dengan perkataannya. Aku duduk dibarisan tamu nomor dua. Wiwied dan teman-temannya menyambutku dengan sangat gembira. Ake sempa becanda ria dengan teman-temannya, ya aku lebih tertarik ngobrol dengan temannya ketimbang dengan Wiwied. Sepulang dari acara itu aku diantarkan oleh teman Wiwied pulang, akupun sempat mampir sejenak.

Dalam perjalanan pulang, aku merasa sangat berat sekali. Ada satu beban yang sampai saat itu belum tertumpahkan. Akupun tak langsung pulang, seperti biasa saat hati ini kalut aku selalu melampiaskannya pada jalanan. Aku bisa saja tak pulang seharian hanya mengintari jalanan sampai manapun dan sampai aku puas. Aku sangat kecewa padanya.

Selang satu bulan akupun mendapat kabar baru dari teman Wiwied, kalau dia akan segera menikah. Ya, aku telah siap. Konon katanya pihak perempuan telah hamil dan terpaksa mereka harus menikah walaupun mereka belum siap dan melangkahi kakak pertamanya yang sebenarnya dialah yang berniat menikah pada bulan itu. Setelah itu aku tak tahu bagaimana kabar selanjutnya. Karena akupun mulai melupakannya.

Terkadang aku binggung dengan semua orang, mengapa sebegitu gampang mereka menyakiti. Bukannya aku sok suci tapi disetiap tindakkanku aku selalu mempertimbangkan orang terdekatku. Dan jika aku sendiri melakukan kesalahan itu karena keterbatasanku menerima keadaan.

Terlarut dalam kebimbangan kadang bisa menyeret orang kedalam jurang kesalahan. Aku pikir itu tak semata-mata kesalahanku. Itu juga karenamu, karena orang disekitarku, dan bisa saja orang terkasihku. Aku menyadari betapa orang bisa merasakan sakit yang sedemikian.[]

Kecanduan Internet




Semenjak ‘hot spot’ area mulai bermunculan diPurwokerto marak pula penggunaan internet sebagai media hiburan baru yang cukup digandrungi mahasiswa. Khususnya bagi mereka yang memiliki laptop pribadi. Terlebih lagi harga laptop sekarang mulai terjangkau untuk kanong mahasiswa sehingga banyak pula mahsiswa yang beralih menggunakan laptop dari pada komputer.

Disatu sisi, hal ini merupakan suatu tanda kemajuan yang cukup menakjubkan. Bagaimana tidak, kini kampus mulai ramia dihuni mahsiswa yang tiap malam rela kedinginan dan rela melek sampai pagi. Namun akhir-akhir ini aku cukup khawatir dengan media yang satu ini. Internet, dengan semua tawaran dari blog, friendster, facebook, e-mail dan tawaran-tawaran menggiurkan lainnya dengan seketika bisa membius seseorang layaknya orang kecanduan narkotika. Bedanya narkotik illegal sedangkan bermain diinternet legal.

Di ruang maya itu semua orang bisa mengenal orang dibelahan dunia. Hanya dengan memantengi layar semua orang bisa bertukar berbagai informasi bertatap muka lewat webcam, dan ngobrol sesuka dan sekuat mereka tanpa ada batasan waktu dengan chating.

Dulu, waktu pertama kali aku mengenal internet, chating khususnya aku merasa sangat senang. Selain mendapat teman baru juga bisa mendapat kepuasan lewat ungkapan kata yang kadang membuat orang berpikir lebih jauh untuk berkenalan langsung.

Aku masih ingat beberapa waktu lalu aku pernah medapat beberapa teman chating yang akhirnya kamipun berkenalan secara langsung. Lama kelamaan akupun bosan, dan terlebih lagi ketakutanku jika aku pada titik tertentu entah sengaja atau tidak menemukan sosok lain seperti kekasihku. Karena pada saat itu dan sampai sekarang aku masih punya kekasih.

Dan saat ini, aku rasa banyak orang yang mulai kecanduan barang yang satu ini. Hingga sampai larut malam mereka rela kedinginan dilantai gedung G fakultas ekonomi atau di gedung Rudiro Unsoed atau bahkan menghabiskan malam-malamnya di kafe-kafe hotspot area. Sebenarnya tak ada yang salah bagi pecandu-pecandu itu. Namun apa mereka tak pernah memikirkan kesehatan mereka. Tak penting mungkin bagi mereka, tapi bagiku yang pernah merasa kehilangan seseorang yang aku sangat sayangi itu penting. Karena proses pelapukan itu berlangsung sangat pelan dan tak terasa sakit. Begitu halus sampai kita tak bisa menyadarinya.

Disisi lain, ada ketakutan lain yang selalu menghantuiku. Bagaimana jika saat chating, bermain friendter atau facebook kita terjebak pada satu titik dimana kita lebih menikmati itu daripada dunia nyata yang kita jalani tiap hari. Atau mungkin dunia maya itu pelan-pelan melaku kearah kita, kearah dunia nyata kita. Yang mungkin saja memberikan bangunan baru pada hidup kita tapi dengan itu bisa saja mereka telah menghancurkan bangunan lama yang kita dirikan bersama.

Apapun itu, karena dunia itu begitu dekat dengan mataku. Aku kadang dituntut untuk siap bahkan siap melihat duniaku yang hancur. Semoga itu hanya ketakuanku.[]

Ayo pada Main Kerumahku




Malem teman-teman. Ayolah aku sudah berada dirumah kapan kalian menemaniku dirumah. Rumahku memang berada jauh dari peradaban. Tapi tak usah khawatir ada banyak tawaran yang bisa menarik kalian untuk bermain kerumahku.

Pertama ya... rumahku jauh dari keramaian jadi pas buat meditasi. Ya, walaupun sekali-kali munkin akan terganggu dengan suara kereta yang melintas tepat diatas rumahku, namun aku jamin itu juga salah satu pemandangan yang jarang ditemui oleh teman-teman kan hehee... dan jika kita sedang menyaksikan kereta lewat kita juga akan melihat bukit jati yang berada tepat disamping jalan utama, indah kan?

Di depan rumahku persis, kita juga bisa melihat betap besar dan panjang sungai serayu yang airnya berwarna coklat dimusim hujan. Kalau yang hobi mancing disitu banyak ikannya kok, dari yang kecil sampai yang paling gede tapi kalau beruntung. Disitu juga ada buayanya dan hewan air lainnya. Tapi buat hewan lainnya aku juga ga terlalu paham ada apa saja karena seperinya belum ada orang yang melakukan riset disitu. Dan konon katanya sungai serayu juga ada ikan yang panjang banget lo...

Keselatan dikit kita juga bisa mengunjungi bendungan berak serayu. Dulu waktu bendungan itu diresmikan kayaknya aku masih sangat kecil kalu nggak salah TK. Yang aku ingat dulu aku kesana cuma beli es krim dan lihat aksi anak-anak SMA entah mana menggunakan tudung berwarna yang ditata dan sedemikian rupa sampai membentuk gambar manan presiden Soeharto, dia yang meresmikannya.

Dan sebelum bendungan, teman-teman bisa menemukan tempat makan yang cukup nyaman. Menunya si biasa aja bahkan terlalu biasa namun suasananya cukup menenangkan. Dikelilingi pohon pinus dan pemandangan alam yang masih alami. Selain sungai dan jalan raya, dari didepan rumah makan itu juga dapat dilihat jembatan kereta api. Lengkap bukan?

Ayolah, sepi ni nggak ada temen. Uh....

Hari ini aku mulai resmi bawa motor teman [27 Maret 2008]




Tak ada yang istimewa dari ini, seperti biasa aku hanya berangkat kuliah yang tak penting tapi bedanya hari ini aku mulai bawa motor sendiri. Awalnya memang takut tapi kalau tak segera dimulai mau mulai kapan lagi. Semua hari sama dan dihari ini atau besok pun aku harus melalui proses yang sama seperti hari ini, hari pertama kali aku bawa motor.

Sebenarnya untuk kenekadanku bawa motor ini udah 3 kali ini namun dulu-dulu aku sempat jatuh diturunan gang depan rumahku. Karena memang jalannya jelak. Namun hari ini aku telah mencobanya lagi, tetep jatuh tapi ada yang beda dong, walaupun jatuh aku tetap bisa berdiri sendiri tak tak lagi minta adeku untuk menjemputku didepan gang karena takut turun.

Naik motor emang mesti PD ya. Ya, karena untuk pertama kalinya pasti diceng-cengi orang. Minimalnya sering diklakson karena mungkin terlalu pelan tapi entahlah mungkin saja orang memang memperhatikanku karena aku cantik hari ini, hehe. Atau ketika keget berpapasan dengan pengendara lain yang bikin jantung ni tiba-tiba deg-degan juga mesti disikapi dengan tawa. Ya..anggap saja kejadian itu emang biasa terjadi buat mereka pengendara motor terlebih lagi bagi pemula sepertiku. Mesti tahan banting.

Tapi setelah ini aku pasti mendapat kepercayaan sepenuhnya dari ibuku untuk membawa motor sendiri tentunya jangan bilang-bilang kalau waktu pulang sebenarnya aku jatuh. Doakan aku baik-baik saja teman.[]

3 hari berada dirumah




Rumah, bagi kebayakan orang rumah merupakan tempat yang paling dirindukan. Setiap orang entah akan pergi kemanapun pasti akan merindukan suasana rumah apapun kondisinya. Dan minggu lalu, selepas kakakku meninggal aku yang sebelumnya kos di Purwokerto dituntut pulang karena kondisi rumah yang saat itu membutuhkanku. Maklum lah anak cewek satu-satunya.

Berat rasa ini untuk pulang kerumah. Sekian lama hidup jauh, kos maksudnya. Kini aku mesti hidup terisolasi ditempat jauh di Kaliwangi. Sebuah desa yang terpencil, terpencil karena merupakan satu-satunya dusun yang terpisah dari inti desa ya, dipisahkan oleh bukit karet, jalan utama, sungai serayu dan jalur kereta api. Disisi lain teman-temah dirumahku juga jarang yang berada dirumah. Ada yang telah bekerja, nikah atau menempuh kuliah sepertiku dan kos tentunya.

Kini hari-hariku banyak dihabiskan didalam kamar dan ditemani adikku paling kecil Ucup (Yusuf). Kuliah hanya beberapa hari, dan jika tak ada kuliah aku malas kemana-mana. Selain itu kini akupun punya kegiatan rutin jika seharian tak ada rencana kemanapun, yakni memasak dan bersih-bersih rumah, udah kaya pembantu dech. Sore harinya aku gunakan untuk mengurus beberapa tanaman yang tak terawat dan setelah selesai aku teruskan untuk berlari kecil di depan rumah. Dan malamnya aku mendampingi adeku yang paling kecil belajar.

Kadang aku bosan dengan Ucup, tiap saat, jika aku berada di kamar dia slalu mengikutiku, untuk meminta mainan komputer tentunya. Sebanarnya tak masalah bagiku, namun dia belum bisa memainan permainan yang ada dikomputer, dan jika dia bisa pun cepat sekali bosan dan minta mainan yang lebih susah dan tak mungkin tak kudampingi. Jika aku tak capai tak masalah bagiku.

Tiga hari ini, aku merasa hari-hariku terasa pendek. Terlalu banyak waktu yang aku habiskan dijalan. Satu jam perjalannan menggunakan angkutan umun dan terkadang masih telat masuk kuliah. Kondisi jalannya pun sangat rusak. Hampir seluruh badan jalan berlobang semua. Dan kata salah seorang dari Cilacap, kondisi ini terus berlanjut bukan hanya Purwokerto-Rawalo namun juga sampai Cilacap.

Beberapa minggu yang lalu, aku juga sempat menyaksikan kecelakaan pengendara motor yang disebabkan karena kondisi jalan yang berlubang. Seminggu setelah kecelakaan, kondisi jalan itu jauh lebih baik, walaupun hanya ditambal sulam dengan asal kasar yang aku pikir tak akan tahan lama. Namun aneh juga karena yang ditambal juga hanya bagian itu ( tempat kecelakaan itu ) padahal masih banyak lubang lain yang tak kalah ekstrim atau mungkin jalan bibenerin juga karena tepat dirumah bupati Banyumas x ya. Tiga hari ini aku juga pernah mendapat cerita kecelakaan dijalan deka rumahku ya, tentunya karena kondisi jalan rusak juga namun sampai saat ini belum ada tanda-tanda jalan akan diperbaiki. Padahal kecelakaan karena jalan rusak sering terjadi. Dan karena itu juga mungkin, ibuku sampai saat ini belum bisa mempercayakan aku untuk membawa motor. Udah dulu ya, mata ini udah nggak kuat liat komputer lama-lama.

Monday, 2 March 2009

And The End ...


Setelah di rawat tiga hari di RS Margono, akhirnya Mas Anton meninggalkan dunia yang fana ini dengan tenang. Inna lillahi wa inna ilai raji'un. Semuanya datang dan kembali kepada-Nya.

Semoga amal ibadahnya diterima di sisi-Nya. Amien.

Friday, 16 January 2009

“Orang Miskin Dilarang Sakit”


Oleh: Wahyuningsih

Sepertinya ungkapan itu benar, seminggu yang lalu kakaku masuk rumah sakit umum di Banyumas karena jantungnya bengkak. Beberapa hari dirawat, sepertinya kesembuhan pun jauh darinya, malah bertambah parah. Dokter mengaakan bahwa kadar kreatine dalam darahnya mencapai 13 dan harus cuci darah secapatnya. Dengan segala pertimbangan, orang tua saya pun memutuskan untuk melakukan cuci darah. Dan setelah cuci darah, kaa dokter kadar kreatin turun menjadi 10. Kakaku terlihat sehat, diapun pulang setelah cuci darah. Seminggu berada di rumah sakit umun pun telah menguras uang sebanyak 2juta lebih.

Sepulang dari rumah sakit, kakaku pun bisa tidur nyenyak, hanya sekali-kali ia alami mimpi buruk pasca cuci darah. Mungkin sedikit trauma. Kini makanannya saja mesti diukur,nasi tim, roti tawar, makan daging hanya satu pitong kecil, telor boleh sehari tiga kali tapi kuning telornya hanya boleh dimakan satu saja, sayuran hanya sayur tertentu kaya buncis-wortel, dan semua masakan tak boleh boleh mengandung garam terlalu banyak, buah- hanya apel hijau yang boleh dimakan dan hanya satu iris keciiil banget. Dan yang lebih parah, dia hanya boleh minum sebanyak satu gelas sehari. Padahal ia mesti meminum obatnya sehari tiga kali yang satu kalinya berisi 2-3 butir obat yang cukup besar. Pernah dia memintaku untuk menanyakan pada teman saya yang bekerja sebagai perawat, apa dia bisa minum lebih dari satu gelas. Karena itu sangat menyiksanya.

Dan seminggu kemudian, tepatnya hari ini kakaku kambuh. Semalam dia tak bisa tidur, gelisah, sesak nafas, dan muntah-muntah. Ibu dan istrinya panik, mereka bingung, bingung mau bagaimana, opnam apa engga. Hari itu, ibuku membawa kakaku kerumah sakit wisnu husada dekat rumah, disana mas Anton diperiksa darahnya. Dalam laporan itu disebutkan bahwa kadar kreatin dalam darah 1,3 dan itu normal. Sedang kadar ureum nya mencapai 76, 26 lebih tinggi dari ureum normal yakni 10-50.

Melihat laporan itu, sentak ibu saya kaget, karena kemarin dokter menyebutkan kadar ureumnya masih 10. dan kata Imam teman Firdaus dengan kadar kreatin yang setinggi itu, program HD (cuci darah) seminggu dua kali saja belum tentu bisa normal. Dan dengan melihat hasil reka medik yang kedua akupun merasa tertipu dengan penanganan rumah sakit itu.

Akhirnya kamipun mencoba keberuntungan baru dengan mencoba rumah sakit lain, kali ini rumah sakit swasta. Tentu saja lebih mahal (bagi keluarga saya tentunya), biaya kamar semalam saja Rp225.000, itupun masih kelas ekonomi. Dan tetangga saya yang pernah dirawat dirumah sakit itu telah menghabiskan sekitar 10 juta selama kurang lebih satu minggu.

Di Bunda, kakak saya diperiksa lagi, ternyata Hb nya sangat rendah hanya 3 dengan kadar Hb normal sekitar 12,5. sepertinya akibat HD yang dilakukan ketika berada di RSUD Banyumas. Dan persediaan darah di PMI untuk kakaku (O) kosong, sehingga kita mesti mencari orang yang mau menyumbangkan darahnya. Aku diberitahu oleh mba Erna saat aku berada di Warteg pak Slamet depan kampus. Sentak aku kaget, membayangkan hal buruk yang akan terjadi pada kakaku. Aku kira mas Anton mesti HD lagi, ternyata tidak.

Akupun langsung menanyakan kebeberapa orang yang berada disitu, air mata ini tak bisa aku bendung lagi, malu sebenarnya. Trus ada seseorang yang mengatakan kalau anak KMPA banyak yang memiliki golongan darah O. Kamipun langsung menuju sekre KMPA. Tapi tak aku temukan orang yang memiliki golongan darah tersebut. Kami juga mengirim kebeberapa teman yang sekiranya bisa membantu kami untuk mendonorkan darahnya.

Disekre sianak kami mendapati Tino, ternyata dia memiliki golongan darah yang sama dengan kakaku dan dia pun siap mendonorkan darahnya. Diapun langsung menuju PMI untuk diambil darahnya bersama dengan Firdaus. Sementara aku sendiri mencari beberapa teman lain yang mungkin bisa menyumbangkan darahnya. Sesampainya disamping Aula ada yang memberitahu via sms bahwa Ardi teman sekelasku mempunyai golongan darah O. Akupun langsung menghubunginya, namun dia tak bisa langsung menemuiku karena tak ada kendaraan.

Sesaat kemudian Doyok, yang sempat bertemu denganku di sekre Solid memberitahu bahwa temannya ada yang bersedia mendonorkan darahnya. Akupun langsung menemuinya dan neranjak ke RS Bunda. Ternyata Doyok punya dua teman yang bisa menyumbangkan darahnya lagi. Ya, aku cukup senang karena memang kakaku sangat membutuhkan banyak darah paling tidak 4 kantong darah yang didapat dari 4 orang pendonor. Sampai di PMI, kami pun langsung mengambil darah mereka. Ternyata kita juga mesti menunggu selama 2-3 jam untuk menunggu proses pemeriksaan darah.

Aku cukup tenang melihat kakaku yang sedang tidur pulas, karena dua hari sebelumnya kakaku sama selaki ak bisa tidur. Nafasnya sesak, batuk-batuk, mutah dan gelisah. Walaupun sat inipun kadang nafas kakaku masih terasa tersendat-sendat dan berat.

Melihat keadaan yang demikian, membuat hati ini menjadi iba. Aku merasa kasihan pada ibuku yang setiap malam menungguinya dengan sabar, mba Erna yang suka mengeluhkan keadan ini, dan adeku paling kecil yang tak bisa aku temani setiap saat dan bapakku yang semakin tua yang semakin menanggung beban yang teramat berat.

Dan hari ini tepat ulang tahunku yang ke 22. Kehidupan semakin terasa berat.[]

.

Sleeping With the Enemy




Hamparan pasir putih pantai yang bersih, sinar merah yang mulai terang, dan ombak air laut memecah kesunyian di tepi pantai. Laura Burney tampak sedang mengaduk-aduk pasir untuk mencari kerang laut yang bersembunyi dibalik pasir putih. Keranjang kecil ia bawa sebagai tempat menampung kerang yang ia dapat. Dari kejauhan tampak ada sosok laki-laki menghampirinya. Marin Burney, adalah suami dari Laura. Dia berjalan menghampiri laura yang sedang sibuk dengan pasir dan kerangnya. Mereka sempat bercakap-cakap. Maukah kau memaafkanku? Ujar Martin. Mungkin mereta telah bertengkar semalam. Laura pun tersenyum, dan mereka membicarakan makan menu makan malam nanti. Dan akhirnya mereka pun berbaikan, sebuah pelukan pun meluluhkan hati Laura.

Malam harinya mereka akan menghadiri sebuah pesta, laura memakai baju berwarna putih. Dia sangat terlihat cantik, namun suaminya menyuruhnya mengganti pakaiannya dengan gaun yang berwarna hitam. Laura tak terlalu menyukai baju yang berwarna hitam itu, karena bagian punggung belakan sedikit terbuka dan dimalam iti cuaca sanga dingin dan juga berangin. Namun, bagaimanapun ketika suaminya menginginkan sesuatu maka, Laura harus menuruti semua kehendaknya. Sepulang dari pesta, mereka merasa lapar, Laura mengambil buah, namun suaminya meraih tubuhnya dan akhirnya malam itu mereka bercinta.

Dipagi harinya, Laura berada diteras yang menghadap pantai. Martin pun daang meraihnya, Laura kira suaminya ingin mengajaknya bercinta lagi namun ternyata Laura diajak ke kamar mandi untuk merapikan handuk kecil disamping kloset. Laura lupa merapihkannya. Kemudian Laura pergi kedapur dan diikui suaminya, mereka bercakap-cakap sebentar dan seperti biasanya menanyakan makan malam. Beberapa saat kemudian, Martin pergi ketepi pantai. Ia melihat ada seseorang sedang mempersiapkan kapalnya untuk berlayar namti malam. Mereka berkenalan, laki-laki itu seorang dokter, John Fleisham, dan Martin pun memperkenalkan dirinya dan juga istrinya Laura. Disela-sela percakapan John mengatakan kalau dia telah melihat istrinya sewaktu ia berada di teras rumah dan mengatakan bahwa rumah Martin dan Laura merupakan rumah yang paling cantik di daerah itu. Dan akhirnya John mengajak Martin untuk berlayar nanti malam. Dengan senang Martin pun mengiyakan ajakan John namun Martin juga mengatakan kalau istrinya takut dengan air dan tak bisa berenang.

Sesampainya dirumah, Martin menanyakan pada laura keberadaan dokter baru tersebut. Martin cemburu, Martinmenanyakan beberapa pertanyaan pada Laura. Dan pada akhirnya Laura diampar karena dikira selingkuh atau menyukai dokter muda itu. Martin menganggapa Laura telah menyakitinya dan menendang perut Laura yang telah terjatuh karena tamparan Martin yang pertama. Laura pun menangis, Martin menghampirinya dan mengatakan supaya Laura idak menangis, dia memeluk Laura dan memina maaf atas perbuatannya. Martin pun beranjak pergi, dia mengajak Laura untuk ikut berlayar nanti malam, walaupun dia tahu kalau Laura takut air. Setelah Martin keluar dari rumah, Laura pun berdiri dengan terpatah-patah, dia menangis.

Laura berdiri menatap laut yang tak bertepi itu, dia terus berpikir, enah apa yang dipikirkannya. Sesampainya disamping rumah, Laura memandang lampu disepanjang jalan dekat rumahnya. Entah apa yang dipikirkannya ia berusaha memecahkan lampu (town beach) yang berada disamping rumahnya dengan bebatuan.

Laura merenung sendirian didalam rumah. Terdengar pintu rumahnya terbuka, namun Laura tak memperdulikanya. Ya, ternyata Martin datang membawakannya seikat bunga mawar, ’sangat cantik’ laura memuji, walaupun laura sama sekali tek melihat aau mencium bunga itu. Martin juga membawakan sekotak kado yang berisikan gaun merang yang sanga cantik. Martin pun memakaikannya, namun dia juga meminta bercina disiang itu. Ketika gaun itu dipakaikan, punggung Laura terlihat memar. Wajah Laura terlihat sangat tertekan, dia sepertinya tak bisa menikamati kegiatan bercintanya dengan Martin. Usai bercinta, Martin langsung keluar rumah, dan Laura hanya bisa merenung, memandang keluar rumah lewat kaca jendela kamarnya.

Saat makan tiba, Laura diam, Martin pun menyadari kediamman istrinya tersebut. Dianyalah apa keinginan Laura saat itu. Ternyata Laura ingin bekerja, namun Marin mengingatkan bahwa dulu ketika Laura bekerja banyak pekerjaan rumah yang tidak selesai dan dua kali mereka tidak bisa makan malam karena Laura pulang terlambat. Mereka akhirnya bertengkar, martin menganggap perengkaran itu sengaja dibuat agar acara berlayar malam ini gagal karena Laura takut dengan air. Martin pun berusaha meyakinkan Laura agar Laura tidak menolak dan takut dengan pelayaran nanti malam karena dia berjanji akan menjaganya dari apapun.

Malam itu pun mereka jadi pergi berlayar dengan dokter John. Bulan bersinar terang, namun lama-kelamaan bulan pun meninggalkan mereka sendiri ditengah lautan. Dan tiba-tiba hujan turun, semakin lama semakin deras dan badai pun tak dapat terelakan. Kilatan-kilatan petir saling menyambar seakan ingin menyambar mereka. Air hujan pun mulai menggenagi kapal mereka. Layar kapal mereka terlepas, Jhon dan juga Martin sangat sibuk dibuatnya, bahkan Martin pun terjauh kelaut, namun mereka terselamatkan. Sedangkan Lura yang sedari tadi duduk dibagian belakang kapal, tiba-tiba menghilang begitu saja sewaktu mereka sedang sibuk menyelamakan diri dari badai. Martin sentak kaget dan berteriak menyesal. Martin pun memanggil bantuan, halikopter pun diterjunkan namun tubuh Laura tak ditemukan, dan mereka hanya menemukan pelampung yang digunakan Laura.

Laura telah hilang, Laura telah meninggal. Upacara pemkaman laura pun diselenggarakan. Marin, yang sangat mencintai Laura tak heni-heninaya mencari Laura. Malam itu ia mencoba berlayar lagi, berharap ada jejak dari Laura. Namun ternyata Laura belum meninggal, sepertinya dia sengaja menjatuhkan diri kedalam laut. Dan ia bersembunyi di sebuah pembatas apung yang tak jauh dari tepi panati itu. Laura melihat suaminya mencarinya, ia bersembunyi di batas apung itu, ia menatap kerumahnya, ‘malam itu kematianku, dan seseorang terselamatkan’- seseorang takut air tapi belajar renang, seseorang yang tahu kegelapan, tapi tahu cahaya akan menunjukan jalannya’. Itulah yang diucapkan Laura saat itu, saa memperjuangkan kebebasannya. Laura pun terus berenang ketepian, ia tahu kalau suaminya tak akan berada dirumah karena mencarinya. Laurapun melewati jalan gelap yang sebelumnya lampunya telah ia pecahkan. Ternyata ia berniat kabur dari suaminya. Sesampainya dirumah, iapun mengambil perbekalan yang telah disiapkan sebelumnya, ada pakaian, sepatu dan sejumlah uang yang ia masukan dalam sebuah tas. Laurapun mencukur rambutnyayang panjang menjadi sebahu, agar ia bisa dengan mudah memakai wig agar tak ada seorang pun mengenalinya.

Laurapun meninggalkan rumahnya dengan menggunakan bus, Laura terlihat sangat lelah sampai-sampai ia tertidur dibahu seorang lelaki uyang berada disebelahnya. Namun ia pun terbangun. Ditengah perjalanan, ada seorang ibu menawarkan apel hijau padanya, ia suka, dan oleh ibu itu ditanya tujuan Laura. Laurapun menceriakan beberapa kisah hidupnya dan sekarang ia ingin berada dekat dengan ibunya yang berada di panti jompo. Dia mengatakan bahwa ibunya mengalami penganiayan dari suaminya, dan akhirnya kabur dari rumah, ia juga mengatakan kalau sekarang ini ibunya tidak bisa melihat dan tak bisa menggunakan tangan kirinya akibat stuk yang dideritanya.

Iowa, adalah tempat tujuan Laura tinggal setelah meninggalkan suaminya. Dia sangat terkesan, banyak hal yang jarang ia lihat sebelumnya, ada anak kecil yang asyik bermain air ditaman, dia sangat senang melihatnya. Setelah tiba disana, Laura tentu membutuhkan empat untuk menginap, iapun menghubungi Ira Neeper untuk menyewa sebuah rumah. Iapun mendapatkan rumah tersebuat dengan membayar sejumlah uang $ 700. Laura pun senang walaupun rumahnya tak secanttik dan sebersih rumahnya dulu.

Iapun duduk diberanda rumah, diapun mandi. Ditatap handuk kecil yang berada disamping kloset, diapun mengingat suami yang ia tinggalkan, diacak-acaklah handuk itu, mungkin semacam bentuk penolakan atas perilaku suaminya waktu dirumah apa lagi hal itu juga mengingakannya pada masa sebelum ia keluar dari rumah. Iapun mengacak-acak makanan kaleng yang berada didalam almari. Ya, Laura sangat tertekan dengan semua hal yang sering dilakukan bersama dengan suaminya Martin. Bahka diapun tak suka dengan lagu yang suka dia dengarkan bersama Martin, mungkin semua kebiasaannya adalah hantu baginya.

Di rumah barunya ia mendapati seorang tetengga yang sedang asyik bernyayi sambil menyirami tanaman di halaman rumahnya, Laura sangat senang melihatnya namun laki-laki itu sadar jika ia sedang diperhatikan oleh seseorang, laki-laki itupun diam, Laura langsung bersembunyi. Malamnya ia melihat ada pohon apel yang sedang berbuah lebat. Laurapun tak tahan untuk memetik apel itu. Iapun memetik banyak sekali, namun tetangga sebelahnya menegurnya, karena takut, laurapun menjatuhkan dan meninggalkan semua apelnya di tanah.

Tak lama kemudian laki-laki itu mengunjungi rumah Laura dan meminta maaf telah membuatnya takut dan membawakan apel yang telah dipetik Laura. Laki-laki itupun mengajak Laura berkenalan, namun Laura takut mengatakan identitasnyadan laki-laki itupun memperkenalkan diri dengan nama Ben Woodward. Ben pun mengajak Laura untuk makan malam bersamanya esok.

Keesokan harinya Laura pun membawakan pie apel buatannya pada Ben. Setelah pertemuan itupun mereka semakin dekat dan saling menyukai. Tetangganya merasa ada yang aneh pada diri Laura, disaat ini Laura merubah namanya menjadi Sara Wateer. Dan Ben menawarkan Laura sebuah pekerjaan. Ben masih merasa ragu dengannya, karena ketika dipanggil Sara, dia sama sekali tak menyadari kalau ada yang memanggil dia. Ben terus mendesak Sara, akhirnya Sara pun marah dan mereka berdua berpisah di tengah jalan. Saat pulang kerumah sarah meminta maaf pada Ben dan menceritakan bahwa ia telah memikiki suami yang kejam, Ben pun memahami itu dan akhirnya Ben membantu Sara untuk menemui ibunya. Kebettulan Ben merupakan pengajar Drama diakademi Seaterfalls, Sara diajaknya kesana dan diberi kejutan yang sangat spesial, mereka senang malam itu. Dan esoknya, Sara berkunjung ke panti jompo untuk menjenguk ibunya dengan berpenampilan laki-laki. Iapun menceriakan kalau dia telah meninggalkan suaminya ‘Martin’. Ibunya sangat iba mendengar ceritanya.

Namun disaat bersamaan, suaminya ‘Martin’ juga sedang berkunjung menjenguk ibu Laura. Dia mengetahui jejak Laura karena ada seseorang wanita yakni eman Laura berlatih renang menghubunginya via telfon. Teman Laura itu memberi informasi bahwa Laura bisa berenang. Dan ia menceritakan bahwa kata Laura ia sering mnedapti tubuh laura memar karena kesukaannya senam. Sentak Martin kaget dan juga marah karena ternyata Laura mungkin masih hidup dan meninggalkannya. Diapun mencari informasi pada pengurus panti jompo ibu Laura yang lama. Dari situ Martin mengetahui bahwa sebenarnya ibu Laura belum meninggal dan telah pindah panti sejak enam bulan yang lalu. Martin pun meyuruh polisi untuk mencari informasi tentang keberadaan Laura dan juga ibunya.

Dan akhirnya hari ini dia menemukan dimana ibu Laura dirawat. Disitu ia mengaku sebagai polisi dan bertanya pada ibu Laura, karna buta ibu Laura ak menyadari bahwa yang sedang berbincang dengannya adalah suami Laura yang kejam, bahkan setelah Martin memperoleh informasi ia hendak membunuh ibu Laura, namun seorang perawat datang dan niat itu pun gagal. Beberapa saat kemudian Marin menyuruh seorang perawat supaya mencari tahu siapa saja yang telah mengunjungi ibu Laura. Sebenarnya Martin telah menemukannya, namun karena Laura keluar terlebih dahulu akhirnya iapun tak menemukan Laura.

Namun Martin telah memperoleh informasi bahwa Laura memiliki teman yang mengajar drama di akademi Seaterfall. Ia pun mencari laki-laki itu. Awalnya ia salah sasaran, namun beberapa saat kemudian ia menemukan Ben. Martin mengikutinya, sampai akhirnya ia melihat Laura bersamanya disebuah karnaval. Marinpun mengikutinya sampai dirumah Laura. Laura semapat kaget ketika dia menyalakan tipe, musik yang tak disukainya menyala, namun Laura berusaha menghilangkan rasa takut. Sesampainya dikamar mandi, iapun mendapati handuk kecil tertata rapi, karena tak percaya iapun keluar memeriksa almari tempat penyimpanan makanan kaleng, ternyata masih berantakan, iapun tenang. Saat kemudian alarm kebakaranpun nyala, Laura langsung lari dan mencabut alat masak yang terbakar dan mematikan alarm kebakaran. Akhirnya Laura pun hendak masuk kedalam kamar, saat lewat di kamar mandi ternyata air dalam bak mandi tumpah, ia pun membuka penutup air, dan ketika berbalalik, ia dapai handuk kecil yang tertata sangat rapi, iapun berlari memeriksa almari penyimpanan kaleng makanan, iapun kaget kaleng-kaleng yang awalnya berantakan kini terata sangat rapi.

Laura ketakutan dan hendak berlari kedepan, ia memanggil-manggil Ben, namun Martin tengah berada dibelakagnya. Dan Laura pun diancam dengan sebuah pistol. Saat itu pula Ben datang menanyakan keadaan Laura, namun Luara yang terancam memaksanya pulang, wajahnya ketakutan dan sempat meneteskan air mata. Ben penasaran denagn Laura, setelah pintu ditutup Ben melihat rumah Laura dari atas pintu rumah Laura yang tepasang dari kaca, ia pun melihat Laura sedang bersama dengan Martin. Saat itu pula Ben memaksa masuk dan mendobrak pintu rumah. Martin sempat terjatuh, perkelahian pun ek terelakan, namun Ben pingsan. Kembali Martin mendekati Laura dan mengancamnya. Akhirnya laura pun menendangnya dan menjatuhkan pistolnya. Laura mengambil pistol itu dan mengarahkannya pada Martin, Martin tak takut, dan menyarankan Laura untuk menelfon polisi. Akhirnya Laura pun menelfon polisi dan mengatakan behwa ia telah membunuh laki-laki yang telah mesuk kedalam rumahnya. Dan setelah itu Laura menembak Martin dengan empat kali tembakan didadanya. Dan akhirnya Martin pun meninggal. Sekian.

Apa yang dapat kita ambil dari film tersebut?
Kalau dari saya sediri, kita dapat mengambil hikmah atas refleksi film ini bahwa siapapun, baik laki-laki ataupun perempuan tidaklah dibenarkan untuk melakukan kekerasan baik fisik maupun psikologi. Karena semua itu akan memberi dampak negatif bagi korban ataupun bagi pelaku. Komunikasi, pengertian merupakan jalan supaya kita dapat memperkecil kemungkinan adanya ketimpangan atau dominasi salah satu pihak, walaupun sebenarnya hal tersebut sangat sulit dilakukan karena keterbatasan-keterbatasan kita sebagai manusia biasa. Apapun bentuknya, yang manamanya kekerasan harus kita lawan dan keadilan harus kita perjuangkan terus.[]

Tuesday, 6 January 2009

Menulis itu susah chuiy…


oleh : wahyu

Hampir satu bulan ini aku tak lagi menulis. Padahal udah ikutan pelatihan nulis lo, tapi tetep aja males buat nulis. Kata cowoku menulis itu mudah, kalau kita udah terbiasa nulis. Gimana lagi ya? Ketertarikanku pada hal tulis-menulis aja baru.

Dulu, pertama kali aku nulis tu udah lama banget ya, jaman-jaman SMP kalau nggak salah, itupun cuma sekedar nulis di buku harian, cuma curhatan gitu. Hanya saja waktu itu aku sempet trauma nulis gara-gara tulisanku kebaca ibuku. Pertama aku dimarahin abis-abisan karena isi tulisanku tentang pacar pertamaku waktu itu, maklum masih kecil kan nggak boleh pacaran. Kali kedua, aku disinisin sama ibuku juga karena tulisan tentang ketidaksukaanku pada ibuku sendiri yang suka marah-marah ga jelas. Setelah itu aku sering menyembunyikan buku isi tulisanku, tapi susah juga, ketahuan terus ya... akhirnya aku buang semua deh.

Beberapa ini aku coba nulis, awalnya si semangat tapi kalo udah didepan komputer nih rasanya kata-kata yang terpikirkan hilang entah kemana. Baru beberapa kalimat aja udah ngeblenk. Kalau sekedar memikirkan judul tulisanya mah cepet tapi ketika mesti mengeksplornya itu yang susahnya minta ampun.

Dalam minggu ini, aku lagi terpacu lagi buat nulis. Mungkin karena cowoku baru aja dapet hadiah dari aktifitas ngeblognya. Lumayan lo, dapet 5jt bo, gede kan. Sapa tahu aku bisa beruntung juga. Walaupun aku sendiri rada pesimis bisa seperti dia, jauh lah. Tulisannya udah bagus, ga kaya tulisanku. Tapi mending lah, selama ini cuma dia yang bisa dijadiin motifasi buat nulis, entah nulis waktu aku marah, sebel atau senang.

About Me

Saya seorang perempuan. Tepatnya seorang manusia. Seperti kalian ...

YM State

Buku Tamu


ShoutMix chat widget
Template by KangNoval & Abdul Munir | blog Blogger Templates