
oleh : wahyu
Dari hari kamis kemarin aku pingin banget pulang kerumah. Siang itu aku mengajak pacarku untuk mengantarkan aku pulang. Dan diapun mengiyakan tentunya jika tak hujan. Memang bulan-bulan ini lagi gencar-gencarnya hujan turun. Sore harinya alampun tak dapat berkompromi denganku. Hujan turun dengan derasnya sampai-sampai aku hanya menghabiskan waktuku dengan tidur siang dan keinginanku untuk pulangpun tertunda. Yah..mungkin besok aku bisa pulang.
Masih terfikirkan dengan rumah, akupun berniat untuk pulang hari ini. Tapi lagi-lagi hujan tak kunjung berhenti. Ah…padahal uang saku uang mepet banget. Hari berikutnya aku harus benar-benar pulang!
Pagi itu aku menelfon pacarku, namun beberapa kali aku telf tak diangkat juga. Mungkin masih tidur. Siangnya, sebelum aku berangkat ujian, pacarku pun menghubungiku. Dengan nada yang cepat, dia menanyakan apa aku bisa ikut keacara open house yasnaya poliana di ketenger. Ya, tentu saja aku tak bisa karena ujian. Niatku mengatakan keinginanku pulang pun terputus seiring putusnya hubungan telf kami. Ah…menyebalkan.
Akhirnya, dikampus aku meminta satu sms kesalah satu temanku. Dan sms kepacarku : “ sebenarnya tadi ade telf bukan mau mengaakan perihal ikut atau engganya ke ke Tenger, tapi ade mau bilang kalo ade pingin pulang. Api ya udah lah gpp.” Dan diapun membalas smsku bahwasanya jika memang ade pingin pulang ya ayo, ntar ya abis acara mas selesai, jam 3an.
Aku pikir dengan kata-kata “ntar jam3an ya” dia bakal kekosku langsung. Aku tunggu sambil nonton film dikamar kos temenku sampai jam 16.30 an. Akhinya aku menelfon dia, tapi tak diangkat juga. Dengan perasaan marah juga sedih akhirnya aku masuk kamar, mencoba menghilangkan semua dengan nonton filmnya Diego Luna. Uh..beberapa kali pacarku menelfon balik, tapi tak kuangkat. Dia juga sms, dengan nada smsnya yang seperti biasa “jadi pulang de?”. Ah…bego banget si pacar ku. Perasaan dari kemarin aku minta pulang masih juga nanya.
Malamnya dia telfon lagi, sekali itu aku angkat. Dia tanya apa aku di kos atau dirumah. Aku menjawab dikamar, entah dikamar rumah atau dikamar kos. Setelah itu telfon aku tutup begitu saja. Beberapa menit kemudian dia datang kekos. Dan lagi-lagi dia nanya ‘jadi pulang?’. Males banget denger kata-kata itu. Akhirnya aku hanya menghabiskan malam itu berkeliling Purwokerto.
Hari minggunya, tumben dia dating kekos pagi-pagi. Pertanyaan yang samapun terlontar dari mulutnya ‘jadi pulang?’ aku kira hari itu benar-benar mau pulang. Dia menyuruhku bergegas mandi dan menyiapkan diri, aku udah bawa titipan adeku yang mesti dibawa pulang dll. Namun entah bagaimana ia berfikir sampai akhirnya kita hanya nonton film dikosnya. Dan malamnya pertanyaan samapun dilontarkan ‘jadi pulang ga de?’ ah…bosan mendengar pertanyaan yang sama dan aku hanya mengatakan ‘terserah!’ dan akhirnya malam itu akupun tak jadi pulang lagi.
Dan sampai sekarang aku belum bisa pulang, tak punya uang juga. Mengenaskan!.[]













