oleh : wahyu
Malam itu, tepatnya pukul 2 pagi, ada satu sms tentang panggilan interview disalah satu café di Purwokerto, tarohlah café ‘BW’. Aku cukup senang, dan esoknya akupun memenuhi panggilan tersebut.
Disiang hari café itu terlihat sepi, hanya ada beberapa orang yang sedang menikmati minuman dan juga fasilitas hot spot. Ada juga anak satu kampus yang sedang asik ngobrol dengan temannya. Akupun berjalan menuju kasir dan menanyakan perihal interview itu. Lalu akupun dipersilahkan untuk menunggu beberapa saat sambil menikmati minuman yang telah aku pesan sebelumnya.
Seelah beberapa saat, aku dan empat pelamar lainnya pun dikumpulkan dalam satu meja. Masing-masing mencantumkan nama dan profesi yang akan kita ambil. Aku menempati urutan ketiga dari daftar nama, dan aku sendiri melamar sebagai seorang waiters.
Seelah beberapa saat, akhirnya akupun dipanggil. Rasa deg-deganpun tak bisa aku elakkan. Pantaslah, baru kali ini aku memenuhi panggilan interview. Akupun berusaha menghilangkan rasa itu. Berkali-kali aku berfikir ‘ini hanya wawancara biasa, nyante aja, anggep yang ada didepanku itu teman’. Setelah duduk dan bertatap muka dengan pewawancara, dia pun mulai melonartarkan pertanyaan-pertanyaannya.
Awalnya dia menegaskan namaku, setelah itu iapun mulai menanyakan tentang kuliahku –semester berapa, ngambil berapa sks, dll-. Lalu diapun menceritakan bagaimana capainya kerja di café ‘BW’ kerja dari jam 15.00-23.00 wib atau 17.00-01.00 wib, belum lagi harus kuliah di pagi harinya. Aku bisa saja bolak-balik beberapa kali untuk satu pelanggan. Dan aku juga bisa mengalami beberapa masalah dengan pelanggan, semisal digodain atau diomelin.
Setelah itu, ada satu pertanyaan yang membuatku sedikit canggung, bukan pertannyaannya sebenarnya tapi ilustrasi yang dia berikan, ‘ apa yang dapat kamu berikan pada café ‘BW’ jika kamu diterima?’ dan dia pun mengikutinya dengan pemisalan ‘apa kamu bisa menggoda pelanggan sehingga mereka senang datang ke café ini’. Sentak aku kaget juga binggung, apa ini hanya contoh atau malah arahan bagi aku untuk bertindak demikian. Aku pikir hal yang bisa aku berikan semacam loyalitas atau apalah, sampai akhirnya aku menjawab bahwasanya aku punya banyak teman yang dapat aku ajak datang ke cafe ini, ya promosi lah. Dan untuk gaji, sebenarnya saya menuntut gaji sesuai umr Purwokero, namun aku sendiri sadar tak mungkin sandar itu dapat dipenuhi, dan ternyata benar mereka hanya mampu memberikan upah sebesar Rp 300.000 perbulan.
Dan akhirnya interview itupun selesai dan katanya jika diterima aku akan diberitahu lewat telfphone sebelum bulan November.
Malamnya, temanku menanyakan perihal interview yang telah aku lalui tadi siang. Aku sempat mengatakan bahwa interviewnya biasa aja, dan sedikit bertentangan dengan hati nurani. Aku merasa sakit hati ketika ada kata-kata menggoda dalam proses tadi siang. Apa iya, kata-kata itu dilontarkan dalam proses itu. Apa ini sebuah arahan? Jika iya, apa mesti demikian? Apa semua pengunjung yang datang benar-benar menginginkan hal yang demikian?, padahal jika kita amati, pengunjung yang datang bukan semata-mata ingin digoda oleh pelayannya. Bisa saja pengunjung hanya ingin menikmati suasana dan fasilitas yang ada di café itu. Salah satu temanku pernah mengatakan bahwa café itu enak karena ada fasilitas free hot spot, dia bisa saja buka internet berjam-jam hanya dengan membeli minuman, bukankah itu sangat menguntungkan bagi mereka. Bukan kerana mereka ingin menikmati godaan waters-waitersnya. Tak terasa air mata inipun jatuh, sedih resanya diperlakukan demikian. Padahal, kita (waiters) seharusnya kan memperoleh jaminan keselatan. Misalnya saja jika kita digoda oleh pelanggan, mereka (perusahaan) seharusnya membela atau melindungi kita, bukan malah mengarahkan kita untuk menggodanya.
Aku pikir, gaji yang mereka tawarkan juga dibawah sandar, tapi tuntutan yang mereka ajukan sangat tak manusiawi. Kenapa tak memberlakukan system kerja kekeluargaan, toh kita sama-sama membutuhkan. Bukannya malah menekan pekerja sedemikian rupa.[]
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment