Friday, 26 September 2008

Kumbang Jalang



oleh : wahyu

Dari kejauhan tampak wajah yang tak asing bagiku. Marlan sosok laki-laki tampan dan berada, yang dengan mudah dapat memikat wanita yang ada didekatnya. Dia baik, dan suka memanjakan wanita. Dia bisa saja melakukan apa saja untuk mendapatkan wanita manapun, selalu mengundang simpati, kata-katanya manis. Mungkin itu pula yang membuat dia punya banyak wanita simpanan.

Layaknya kumbang yang beranjak dewasa,ia pun suka mengais madu dari kuncup-kuncup bunga yang merekah. Kadang, entah karena lapar atau memang serakah, kumbang pun tak segan-segan hinggap dibunga-bunga yang telah ia hingapi kemarin. Mengais madu yang hampir sirna dan meninggalkannya begitu saja.

Layaknya matahari yang selalu setia menghangatkan bumi ini, ia pun menuai janji-janji manis diatas teriknya, yang kadang menyengat kulit. Tak semua perkataannya benar. Tak selamanya kasih sayangnya tulus. Kadang memberi cahaya dan kehangatan namun juga memberi sengatan yang membuat tubuh ini kelam.

Aku hanya melihatnya dari jauh, tak berani mendekat karena ketakutanku lebih besar dari semuanya. Takut akan panasnya yang dapat menyakiti kulit ini.

Entah mengapa, kadang aku merasa kasiahan pada bunga-bunga yang ia hinggapi. Apa Marlan tak sadar telah menyakiti mereka. Akupun tak tahu. Mungkin bunga-bunga itu senang karena pada dasarnya mereka diuntungkan. Kumbang itu telah membantu mereka dalam proses penyerbukan yang akan membuat mereka berbuah.

Namun apa hal itu pantas dilakukan seorang manusia yang berakal sehat, seperti Marlan? Kumbang, sekedar hewan yang hanya mengikuti instingnya. Dan bunga hanya sekedar tanaman penghias halaman atau rumqah. Mereka sama sekali tak dilengkapi akal. Tapi manusia? Apa kita akan menyamakan diri dengan binatang atau bunga itu? Aku pikir tidak.

Namun pada kenyataanya kau tak jauh beda dengan kumbang itu. Yang lemah jika ia melihat bunga yang mulai mekar, yang terbuai dengan wangi yang selalu tercium dari setiap kuncupnya. Dan Marlan, layaknya seekor kumbang selalu mencari wanita lain walau ia telah memiliki bunga yang takkan habis madunya.

Tak puas, dan tak akan puas mungkin. Marlan selayak binatang jalang yang selalu lapar. Tak cukup dengan satu wanita.

Marlan, laki-laki tampan yang sangat lemah. Kau lemah pada seorang wanita, kau lemah jika tak memperoleh madu yang berlimpah. Yang kadang kelemahan itu, akan banyak menyakiti banyak wanita.[]

Aku ada…


oleh : wahyu

Aku manusia utuh
Tanpa kamu, aku tetap ada
Tanpa kamu, aku bisa
Tanpa kamu, aku hidup
Aku ada bukan karena kamu

Aku - boneka


oleh : wahyu

boneka itu bisa menyenangkan
bisa memmbuatmu tertawa
bisa menghangatkanmu
bisa memuaskan nafsumu

tapi ia tak bisa merasakan apa-apa
hampa…hambar…
dimana hati itu
yang katanya peka

hilang…hilang…hilang
engkau hilang
tak ada rasa….
Oh…pergilah

Awan itu
Tak lagi diatasku
Terik matahari mennghujam
Tubuh yang lemah ini
Perih…terasa perih

Sendiri


oleh : wahyu

Suara riuh hinggap disekitarku
Tak kudengar
Tak kurasakan
Kubiarkan semua pergi begitu saja

Terperangkap dalam kesunyian
Sendiri, sendiri, dan sendiri lagi

Kutemukan cahaya
Ku menggapainya
Ku menyentuhnya
Kutinggalkan

Ketakberdayaan, keterpurukan kembali datang
Hilang dan juga datang begitu saja
Oh…
Aku lelah, lelah dengan kehidupan ini
Lelah dengan semuanya
Tinggalkan…

Muak


oleh : wahyu

Malam…bintang…
Sendiri…sepi…
Aku ingin spt angin…
Bisa pergi kemanapun aku suka
Memberi ksejukan,
Jadi topan yang menghancurkan segalanya

Bintangku…
Aku suka memandangmu
Tapi aku tak bisa menggapaimu

Ah…dunia brengsek
Semuanya….

Aku ingin lari
Tinggalkan semua
Semua yang membuatku muak

Kenapa dunia ini ada…
Kenapa aku ada..
Kenapa semuaanya ada..
Mereka munafik
Ah… aku muak

Wednesday, 24 September 2008

Anak Jalanan Stasiun


Oleh: Wahyuningsih

Stasiun KA purwokerto, merupakan satu-satunya stasiun kereta yang ada di Purwokero. Tempatnya cukup besar dan juga ramai. Aku sendiri sering mengunjungi tempat itu, tepatnya dimalam hari, untuk sekedar iseng atau sebagai tempat melepaskan penatku.
Sengaja memang, sore itu aku dan teman-teman main di stasiun Purwokerto. Saat itu kami mendapat tugas penelitian anak jalanan dan akhirnya kami memilih anak jalanan yang ada di stasiun Purwokerto. Kebetulan rumah nenek dari teman kami, dekat dengan stasiun tersebut jadi kita bisa beristirahat sejenak dan menitipkan barang-bawaan kami. Setelah kami mampir untuk istirahat sejenak, menitipkan tas dan juga motor, kamipun menuju stasiun dengan melewati perumahan disekitar stasiun dan sawah yang berada tepat disamping rel kereta tersebut.

Setelah beberapa saat berada di dalam stasiun, aku menyadari bahwa sebenarnya jarang ada anak jalanan yang menetap di satu tempat. Pastilah mereka terus berpindah-pindah mengikuti arah kereta yang mereka naiki. Memang ada beberapa dari mereka yang memang sedang berada di stasiun itu.

Andi, merupakan salah satu anak jalanan di stasiun yang sedang berada di Purwokerto. Andi sendiri sebenarnya berasal dari Tegal. Masih teringat ketika itu, dia sedang memakai baju berwarna orange yang kegedean, rambut ikal dan senyum lugu terpancar dari raut muka yang gembira ketika kami menghampiri dan mencoba ngobrol santai dengannya. Andi merupakan bocah berumur 13 tahun yang telah putus sekolah semenjak kelas 6 SD. Dan semenjak itu pula Andi banyak menghabiskan waktunya di stasiun untuk bekerja sebagai tukang sapu digerbong-gerbong kereta api. Entah karena apa dia putus sekolah dan memutuskan mengadu nasib menjadi tukang sapu di kereta api. Mungkin karena memang ayah dan ibunya yang memang telah meninggal dan tak ada lagi yang mampu membiayai dirinya. Namun ketika aku tanya tentang rumah dan keluarganya, iapun hanya menjawab bahwa ia tak mau pulang kerumah, apa alasannya aku tak tahu karena aku pun tak enak melihat dia yang sepertinya tak nyaman dengan pertanyaan itu.

Tak seperti profesi-profesi lain, profesi ini (tukang sapu) membutuhkan keberanian yang cukup tinggi karena mempunyai resiko yang sangat tinggi pula. Menurut penuturan Andi, menjadi tukang sapu didalam kereta mesti tahu mana kereta yang dapat ia naiki dan mana yang tak mungkin ia naiki. Karena jika sampai salah atau mungkin memang lagi apes bisa kena rasia atau ditangkap PS (polisi). Dan tak tanggung-tanggung, jika mereka terangkap dikereta yang telah melaju merekapun tak segan-segan melempar mereka keluar gerbong. Diapun menceritakan bahwa dulu, memang pernah sekali, ada anak yang dibuang dari atas gerbong di jembatan Sungai Serayu. Kereta yang sering mereka naiki yakni kereta-kereta kelas ekonomi, karena memang jarang ada polisi. Ya, cukup ironis, padahal jika dibandingkan dengan penghasilan yang mereka peroleh sangatlah timpang, dimana mereka hanya akan menmperoleh Rp 3000 – Rp 5000 dalam sehari.

Jumlah mereka sebanarnya cukup banyak, kata Andi ada sekitar 35 anak jalanan yang berprofesi sama dan beberapa diantaranya menjadi pedagang asongan. Namun jumlah tersebut sulit untuk kita temui karena pada siang hari sebagian berpencar untuk bekerja sendiri. Namun (kata andi) pada malam hari mungkin sekitar jam 8 malam mereka akan berkumpul distasiun Purwokerto untuk makan malam bersama dan pulang ke Gombong bersama pula. Dan pada pagi harinya mereka biasa menggunakan kereta pertamina untuk kembali ke Purwokerto lagi.

Tiba-tiba suasana sedikit berubah ramai ketika teman-teman andi datang menghampirinya. Seperti anak pada umunnya, terlihat jelas bahwa andi dan juga teman-temannya masih suka bermain-main dan bercanda ria bersama. Bermain kejar-kejaran diatas gerbong usang yang tak terpakai dengan ditemani sebatang rokok yang dihisap beramai-ramai. Ada satu temannya menanyakan bagaimana kabar salah seorang perempuan digombong pada Andi, mungkin pacarnya. Dengan senyum malu ia pun menjawab bahwa ia telah putus dengan perempuan tadi.

Mungkin itu, sedikit gambaran dari realita yang ada dalam masyarakat. Dimana ada sebagian dari ada yang menjalani hari-hari yang cukup berat. Aku pikir semua inipun bukanlah pilihan mereka namun ada sesuatu yang berada diluar dirinya yang memaksa mereka menjalani hidup yang demikian.[]

Akhirnya ke Baturaden


Oleh: Wahyuningsih


Hari ini sebenarnya saya semestinya mengurus surat perpanjangan STNK motor kakak saya. Namun kerena beberapa hal akhirnya sayapun menunda acara itu. Dan pada sore harinya sebenarnya kami berencana main rakit di tempat mba Dewi di kalirajut, namun karena mba Dewi nya pergi ketempat saudara maka kamipun mengurungkan niat kami. Dan akhirnya, pada siang harinya kamipun memutuskan untuk sekedar main-main di baturaden tepatnya di ’curug gede’ untuk main air sambil foto-foto.


Perjalanan dimulai dari jam 2 siang, dengan peralatan sederhana seperti tas, celana pendek, dan sepeda motor pun kami persiapkan. Perjalanan ini ditempuh sekitar 15 menit dengan menggunakan sepeda motor. Sesampai disana kita dimintai uang karcis perorang Rp 1000,- dan motor dihitung Rp 1500,-, dan didalam kita juga masih diminta uang parkir sebesar Rp 2000,-. Kita pikir-pikir, ternyata lebih mahal harga motor ketimbang kita yang hanya dihitung Rp 1000,-.


"Curug Gede" merupakan salah satu air terjun yang mempunyai ketinggian sekitar 4-5 m. tempatnya tak cukup luas, namun cukup menarik untuk dijadikan obyek wisata. Dulu, tempat ini sepi, jarang ada pengunjung datang ketempat ini. Belum ada bangunan-bangunan yang didirikan diarea tersebut. Benar-benar alami dan hanya ada tempa parkir kendaraan bermotor dan juga satu warung makan disampingnya dan sampai sekarang masih tetap berjualan. Dibawahnya ada semacam waduk kecil, mungkin digunakan untuk pengairan didaerah tersebut.


Sesampai disana, ternyata tempat ini mulai direnofasi dan sedang dibangun beberapa tempat makan dan juga penginapan dan sepertinya juga akan dibangun kolam renang yang berkedalaman sekitar 1-1.5 M. Ada beberapa pendopo kecil terbuat dari kayu-kayu dan beratap jerami yang dapat kita gunakan sebangai tempat istirahat atau duduk santai serambi menikmati pemandangan alam yang cukup sejuk. Di selain itu kita juga dapat memesan beberapa menu makanan atau minuman yang tersedia tentunya. Lalu kita pun mencari tempat paling ujung yakni diarea air terjun. Sebelumnya kami sempat berganti celana pendek dengan selembar kain syal sebagai penutup dibelakang bangunan yang sepertinya biasa dipakai untuk menampung batu-batu yang dipungut dari area tersebut.


Selepas berganti, melewati jalan setapak kamipun menuju kearea air terjun dan siap untuk bermain air. Namun karena ternyata banyak juga pengunjung yang sedang bermain dan ada pula yang sedang meluncur dari ketinggiannya maka kamipun memutuskan hanya sekedar berfoto-foto ria. Banyak foto yang kami dapatkan dari perjalanan ini. Namun, karena hanya berdua ‘Saya dan Irna’ kamipun sulit berfoto bersama. Hanya ada 2 foto bersama, itupun kami meminta pertolong pada pengunjung lain.


Setelah bosan, kamipun memutuskan mencari obyek lain. Kamipun memutuskan untuk naik sedikit ke atas. Namun akhirnya kita turun, dan berhenti diarea persawahan milik warga. Awalnya kia tertarik pada sayuran yang ditanam disawah tersebut. Kia berniat membeli beberapa potong sayuran untuk kita masak sendiri. Namun ternyata, seelah bertanya pada seorang ibu yang sedang melintas dan memberitahu bahwa rumah pemiliknya jauh dan tak ada disini kami pun mengurungkan niat kami. Dan akhirnya kita malah berfoto dipinggir jalan dan sawah tersebut. Setelah beberapa lama kita pun menuju keengan sawah yang berada tak jauh dari tempat itu. Ada banyak bunga-bunga liar yang cukup cantik dan oleh Irna dibikinlah mahkota-mahkotaan.


Kami pun menemukan sebuah kebun cabe yang cukup subur, namun dari situ pula mercium bau yang kurang sedap seperti bau obat. Mungkin karena terlalu banyak pestisida yang digunakan, sampai-sampai bau sanga menyengat. Apa jadinya jika hasil pertanian dengan banyak pestisida ini dikonsumsi oleh kita, ngeri juga ya.


Setelah jam menunjuk pukul 5 sore kamipun memutuskan untuk pulang kekos. Maaf sebelumnya, dengan segala keusilan kitapun kembali kekebun sayur yang sebelumnya, dan memetik beberapa untuk kita masak.....hehe. []

About Me

Saya seorang perempuan. Tepatnya seorang manusia. Seperti kalian ...

YM State

Buku Tamu


ShoutMix chat widget
Template by KangNoval & Abdul Munir | blog Blogger Templates