
oleh : wahyu
Dari kejauhan tampak wajah yang tak asing bagiku. Marlan sosok laki-laki tampan dan berada, yang dengan mudah dapat memikat wanita yang ada didekatnya. Dia baik, dan suka memanjakan wanita. Dia bisa saja melakukan apa saja untuk mendapatkan wanita manapun, selalu mengundang simpati, kata-katanya manis. Mungkin itu pula yang membuat dia punya banyak wanita simpanan.
Layaknya kumbang yang beranjak dewasa,ia pun suka mengais madu dari kuncup-kuncup bunga yang merekah. Kadang, entah karena lapar atau memang serakah, kumbang pun tak segan-segan hinggap dibunga-bunga yang telah ia hingapi kemarin. Mengais madu yang hampir sirna dan meninggalkannya begitu saja.
Layaknya matahari yang selalu setia menghangatkan bumi ini, ia pun menuai janji-janji manis diatas teriknya, yang kadang menyengat kulit. Tak semua perkataannya benar. Tak selamanya kasih sayangnya tulus. Kadang memberi cahaya dan kehangatan namun juga memberi sengatan yang membuat tubuh ini kelam.
Aku hanya melihatnya dari jauh, tak berani mendekat karena ketakutanku lebih besar dari semuanya. Takut akan panasnya yang dapat menyakiti kulit ini.
Entah mengapa, kadang aku merasa kasiahan pada bunga-bunga yang ia hinggapi. Apa Marlan tak sadar telah menyakiti mereka. Akupun tak tahu. Mungkin bunga-bunga itu senang karena pada dasarnya mereka diuntungkan. Kumbang itu telah membantu mereka dalam proses penyerbukan yang akan membuat mereka berbuah.
Namun apa hal itu pantas dilakukan seorang manusia yang berakal sehat, seperti Marlan? Kumbang, sekedar hewan yang hanya mengikuti instingnya. Dan bunga hanya sekedar tanaman penghias halaman atau rumqah. Mereka sama sekali tak dilengkapi akal. Tapi manusia? Apa kita akan menyamakan diri dengan binatang atau bunga itu? Aku pikir tidak.
Namun pada kenyataanya kau tak jauh beda dengan kumbang itu. Yang lemah jika ia melihat bunga yang mulai mekar, yang terbuai dengan wangi yang selalu tercium dari setiap kuncupnya. Dan Marlan, layaknya seekor kumbang selalu mencari wanita lain walau ia telah memiliki bunga yang takkan habis madunya.
Tak puas, dan tak akan puas mungkin. Marlan selayak binatang jalang yang selalu lapar. Tak cukup dengan satu wanita.
Marlan, laki-laki tampan yang sangat lemah. Kau lemah pada seorang wanita, kau lemah jika tak memperoleh madu yang berlimpah. Yang kadang kelemahan itu, akan banyak menyakiti banyak wanita.[]







