
Oleh: Wahyuningsih
Stasiun KA purwokerto, merupakan satu-satunya stasiun kereta yang ada di Purwokero. Tempatnya cukup besar dan juga ramai. Aku sendiri sering mengunjungi tempat itu, tepatnya dimalam hari, untuk sekedar iseng atau sebagai tempat melepaskan penatku.
Sengaja memang, sore itu aku dan teman-teman main di stasiun Purwokerto. Saat itu kami mendapat tugas penelitian anak jalanan dan akhirnya kami memilih anak jalanan yang ada di stasiun Purwokerto. Kebetulan rumah nenek dari teman kami, dekat dengan stasiun tersebut jadi kita bisa beristirahat sejenak dan menitipkan barang-bawaan kami. Setelah kami mampir untuk istirahat sejenak, menitipkan tas dan juga motor, kamipun menuju stasiun dengan melewati perumahan disekitar stasiun dan sawah yang berada tepat disamping rel kereta tersebut.
Setelah beberapa saat berada di dalam stasiun, aku menyadari bahwa sebenarnya jarang ada anak jalanan yang menetap di satu tempat. Pastilah mereka terus berpindah-pindah mengikuti arah kereta yang mereka naiki. Memang ada beberapa dari mereka yang memang sedang berada di stasiun itu.
Andi, merupakan salah satu anak jalanan di stasiun yang sedang berada di Purwokerto. Andi sendiri sebenarnya berasal dari Tegal. Masih teringat ketika itu, dia sedang memakai baju berwarna orange yang kegedean, rambut ikal dan senyum lugu terpancar dari raut muka yang gembira ketika kami menghampiri dan mencoba ngobrol santai dengannya. Andi merupakan bocah berumur 13 tahun yang telah putus sekolah semenjak kelas 6 SD. Dan semenjak itu pula Andi banyak menghabiskan waktunya di stasiun untuk bekerja sebagai tukang sapu digerbong-gerbong kereta api. Entah karena apa dia putus sekolah dan memutuskan mengadu nasib menjadi tukang sapu di kereta api. Mungkin karena memang ayah dan ibunya yang memang telah meninggal dan tak ada lagi yang mampu membiayai dirinya. Namun ketika aku tanya tentang rumah dan keluarganya, iapun hanya menjawab bahwa ia tak mau pulang kerumah, apa alasannya aku tak tahu karena aku pun tak enak melihat dia yang sepertinya tak nyaman dengan pertanyaan itu.
Tak seperti profesi-profesi lain, profesi ini (tukang sapu) membutuhkan keberanian yang cukup tinggi karena mempunyai resiko yang sangat tinggi pula. Menurut penuturan Andi, menjadi tukang sapu didalam kereta mesti tahu mana kereta yang dapat ia naiki dan mana yang tak mungkin ia naiki. Karena jika sampai salah atau mungkin memang lagi apes bisa kena rasia atau ditangkap PS (polisi). Dan tak tanggung-tanggung, jika mereka terangkap dikereta yang telah melaju merekapun tak segan-segan melempar mereka keluar gerbong. Diapun menceritakan bahwa dulu, memang pernah sekali, ada anak yang dibuang dari atas gerbong di jembatan Sungai Serayu. Kereta yang sering mereka naiki yakni kereta-kereta kelas ekonomi, karena memang jarang ada polisi. Ya, cukup ironis, padahal jika dibandingkan dengan penghasilan yang mereka peroleh sangatlah timpang, dimana mereka hanya akan menmperoleh Rp 3000 – Rp 5000 dalam sehari.
Jumlah mereka sebanarnya cukup banyak, kata Andi ada sekitar 35 anak jalanan yang berprofesi sama dan beberapa diantaranya menjadi pedagang asongan. Namun jumlah tersebut sulit untuk kita temui karena pada siang hari sebagian berpencar untuk bekerja sendiri. Namun (kata andi) pada malam hari mungkin sekitar jam 8 malam mereka akan berkumpul distasiun Purwokerto untuk makan malam bersama dan pulang ke Gombong bersama pula. Dan pada pagi harinya mereka biasa menggunakan kereta pertamina untuk kembali ke Purwokerto lagi.
Tiba-tiba suasana sedikit berubah ramai ketika teman-teman andi datang menghampirinya. Seperti anak pada umunnya, terlihat jelas bahwa andi dan juga teman-temannya masih suka bermain-main dan bercanda ria bersama. Bermain kejar-kejaran diatas gerbong usang yang tak terpakai dengan ditemani sebatang rokok yang dihisap beramai-ramai. Ada satu temannya menanyakan bagaimana kabar salah seorang perempuan digombong pada Andi, mungkin pacarnya. Dengan senyum malu ia pun menjawab bahwa ia telah putus dengan perempuan tadi.
Mungkin itu, sedikit gambaran dari realita yang ada dalam masyarakat. Dimana ada sebagian dari ada yang menjalani hari-hari yang cukup berat. Aku pikir semua inipun bukanlah pilihan mereka namun ada sesuatu yang berada diluar dirinya yang memaksa mereka menjalani hidup yang demikian.[]


0 comments:
Post a Comment