Friday, 16 January 2009

“Orang Miskin Dilarang Sakit”


Oleh: Wahyuningsih

Sepertinya ungkapan itu benar, seminggu yang lalu kakaku masuk rumah sakit umum di Banyumas karena jantungnya bengkak. Beberapa hari dirawat, sepertinya kesembuhan pun jauh darinya, malah bertambah parah. Dokter mengaakan bahwa kadar kreatine dalam darahnya mencapai 13 dan harus cuci darah secapatnya. Dengan segala pertimbangan, orang tua saya pun memutuskan untuk melakukan cuci darah. Dan setelah cuci darah, kaa dokter kadar kreatin turun menjadi 10. Kakaku terlihat sehat, diapun pulang setelah cuci darah. Seminggu berada di rumah sakit umun pun telah menguras uang sebanyak 2juta lebih.

Sepulang dari rumah sakit, kakaku pun bisa tidur nyenyak, hanya sekali-kali ia alami mimpi buruk pasca cuci darah. Mungkin sedikit trauma. Kini makanannya saja mesti diukur,nasi tim, roti tawar, makan daging hanya satu pitong kecil, telor boleh sehari tiga kali tapi kuning telornya hanya boleh dimakan satu saja, sayuran hanya sayur tertentu kaya buncis-wortel, dan semua masakan tak boleh boleh mengandung garam terlalu banyak, buah- hanya apel hijau yang boleh dimakan dan hanya satu iris keciiil banget. Dan yang lebih parah, dia hanya boleh minum sebanyak satu gelas sehari. Padahal ia mesti meminum obatnya sehari tiga kali yang satu kalinya berisi 2-3 butir obat yang cukup besar. Pernah dia memintaku untuk menanyakan pada teman saya yang bekerja sebagai perawat, apa dia bisa minum lebih dari satu gelas. Karena itu sangat menyiksanya.

Dan seminggu kemudian, tepatnya hari ini kakaku kambuh. Semalam dia tak bisa tidur, gelisah, sesak nafas, dan muntah-muntah. Ibu dan istrinya panik, mereka bingung, bingung mau bagaimana, opnam apa engga. Hari itu, ibuku membawa kakaku kerumah sakit wisnu husada dekat rumah, disana mas Anton diperiksa darahnya. Dalam laporan itu disebutkan bahwa kadar kreatin dalam darah 1,3 dan itu normal. Sedang kadar ureum nya mencapai 76, 26 lebih tinggi dari ureum normal yakni 10-50.

Melihat laporan itu, sentak ibu saya kaget, karena kemarin dokter menyebutkan kadar ureumnya masih 10. dan kata Imam teman Firdaus dengan kadar kreatin yang setinggi itu, program HD (cuci darah) seminggu dua kali saja belum tentu bisa normal. Dan dengan melihat hasil reka medik yang kedua akupun merasa tertipu dengan penanganan rumah sakit itu.

Akhirnya kamipun mencoba keberuntungan baru dengan mencoba rumah sakit lain, kali ini rumah sakit swasta. Tentu saja lebih mahal (bagi keluarga saya tentunya), biaya kamar semalam saja Rp225.000, itupun masih kelas ekonomi. Dan tetangga saya yang pernah dirawat dirumah sakit itu telah menghabiskan sekitar 10 juta selama kurang lebih satu minggu.

Di Bunda, kakak saya diperiksa lagi, ternyata Hb nya sangat rendah hanya 3 dengan kadar Hb normal sekitar 12,5. sepertinya akibat HD yang dilakukan ketika berada di RSUD Banyumas. Dan persediaan darah di PMI untuk kakaku (O) kosong, sehingga kita mesti mencari orang yang mau menyumbangkan darahnya. Aku diberitahu oleh mba Erna saat aku berada di Warteg pak Slamet depan kampus. Sentak aku kaget, membayangkan hal buruk yang akan terjadi pada kakaku. Aku kira mas Anton mesti HD lagi, ternyata tidak.

Akupun langsung menanyakan kebeberapa orang yang berada disitu, air mata ini tak bisa aku bendung lagi, malu sebenarnya. Trus ada seseorang yang mengatakan kalau anak KMPA banyak yang memiliki golongan darah O. Kamipun langsung menuju sekre KMPA. Tapi tak aku temukan orang yang memiliki golongan darah tersebut. Kami juga mengirim kebeberapa teman yang sekiranya bisa membantu kami untuk mendonorkan darahnya.

Disekre sianak kami mendapati Tino, ternyata dia memiliki golongan darah yang sama dengan kakaku dan dia pun siap mendonorkan darahnya. Diapun langsung menuju PMI untuk diambil darahnya bersama dengan Firdaus. Sementara aku sendiri mencari beberapa teman lain yang mungkin bisa menyumbangkan darahnya. Sesampainya disamping Aula ada yang memberitahu via sms bahwa Ardi teman sekelasku mempunyai golongan darah O. Akupun langsung menghubunginya, namun dia tak bisa langsung menemuiku karena tak ada kendaraan.

Sesaat kemudian Doyok, yang sempat bertemu denganku di sekre Solid memberitahu bahwa temannya ada yang bersedia mendonorkan darahnya. Akupun langsung menemuinya dan neranjak ke RS Bunda. Ternyata Doyok punya dua teman yang bisa menyumbangkan darahnya lagi. Ya, aku cukup senang karena memang kakaku sangat membutuhkan banyak darah paling tidak 4 kantong darah yang didapat dari 4 orang pendonor. Sampai di PMI, kami pun langsung mengambil darah mereka. Ternyata kita juga mesti menunggu selama 2-3 jam untuk menunggu proses pemeriksaan darah.

Aku cukup tenang melihat kakaku yang sedang tidur pulas, karena dua hari sebelumnya kakaku sama selaki ak bisa tidur. Nafasnya sesak, batuk-batuk, mutah dan gelisah. Walaupun sat inipun kadang nafas kakaku masih terasa tersendat-sendat dan berat.

Melihat keadaan yang demikian, membuat hati ini menjadi iba. Aku merasa kasihan pada ibuku yang setiap malam menungguinya dengan sabar, mba Erna yang suka mengeluhkan keadan ini, dan adeku paling kecil yang tak bisa aku temani setiap saat dan bapakku yang semakin tua yang semakin menanggung beban yang teramat berat.

Dan hari ini tepat ulang tahunku yang ke 22. Kehidupan semakin terasa berat.[]

.

Sleeping With the Enemy




Hamparan pasir putih pantai yang bersih, sinar merah yang mulai terang, dan ombak air laut memecah kesunyian di tepi pantai. Laura Burney tampak sedang mengaduk-aduk pasir untuk mencari kerang laut yang bersembunyi dibalik pasir putih. Keranjang kecil ia bawa sebagai tempat menampung kerang yang ia dapat. Dari kejauhan tampak ada sosok laki-laki menghampirinya. Marin Burney, adalah suami dari Laura. Dia berjalan menghampiri laura yang sedang sibuk dengan pasir dan kerangnya. Mereka sempat bercakap-cakap. Maukah kau memaafkanku? Ujar Martin. Mungkin mereta telah bertengkar semalam. Laura pun tersenyum, dan mereka membicarakan makan menu makan malam nanti. Dan akhirnya mereka pun berbaikan, sebuah pelukan pun meluluhkan hati Laura.

Malam harinya mereka akan menghadiri sebuah pesta, laura memakai baju berwarna putih. Dia sangat terlihat cantik, namun suaminya menyuruhnya mengganti pakaiannya dengan gaun yang berwarna hitam. Laura tak terlalu menyukai baju yang berwarna hitam itu, karena bagian punggung belakan sedikit terbuka dan dimalam iti cuaca sanga dingin dan juga berangin. Namun, bagaimanapun ketika suaminya menginginkan sesuatu maka, Laura harus menuruti semua kehendaknya. Sepulang dari pesta, mereka merasa lapar, Laura mengambil buah, namun suaminya meraih tubuhnya dan akhirnya malam itu mereka bercinta.

Dipagi harinya, Laura berada diteras yang menghadap pantai. Martin pun daang meraihnya, Laura kira suaminya ingin mengajaknya bercinta lagi namun ternyata Laura diajak ke kamar mandi untuk merapikan handuk kecil disamping kloset. Laura lupa merapihkannya. Kemudian Laura pergi kedapur dan diikui suaminya, mereka bercakap-cakap sebentar dan seperti biasanya menanyakan makan malam. Beberapa saat kemudian, Martin pergi ketepi pantai. Ia melihat ada seseorang sedang mempersiapkan kapalnya untuk berlayar namti malam. Mereka berkenalan, laki-laki itu seorang dokter, John Fleisham, dan Martin pun memperkenalkan dirinya dan juga istrinya Laura. Disela-sela percakapan John mengatakan kalau dia telah melihat istrinya sewaktu ia berada di teras rumah dan mengatakan bahwa rumah Martin dan Laura merupakan rumah yang paling cantik di daerah itu. Dan akhirnya John mengajak Martin untuk berlayar nanti malam. Dengan senang Martin pun mengiyakan ajakan John namun Martin juga mengatakan kalau istrinya takut dengan air dan tak bisa berenang.

Sesampainya dirumah, Martin menanyakan pada laura keberadaan dokter baru tersebut. Martin cemburu, Martinmenanyakan beberapa pertanyaan pada Laura. Dan pada akhirnya Laura diampar karena dikira selingkuh atau menyukai dokter muda itu. Martin menganggapa Laura telah menyakitinya dan menendang perut Laura yang telah terjatuh karena tamparan Martin yang pertama. Laura pun menangis, Martin menghampirinya dan mengatakan supaya Laura idak menangis, dia memeluk Laura dan memina maaf atas perbuatannya. Martin pun beranjak pergi, dia mengajak Laura untuk ikut berlayar nanti malam, walaupun dia tahu kalau Laura takut air. Setelah Martin keluar dari rumah, Laura pun berdiri dengan terpatah-patah, dia menangis.

Laura berdiri menatap laut yang tak bertepi itu, dia terus berpikir, enah apa yang dipikirkannya. Sesampainya disamping rumah, Laura memandang lampu disepanjang jalan dekat rumahnya. Entah apa yang dipikirkannya ia berusaha memecahkan lampu (town beach) yang berada disamping rumahnya dengan bebatuan.

Laura merenung sendirian didalam rumah. Terdengar pintu rumahnya terbuka, namun Laura tak memperdulikanya. Ya, ternyata Martin datang membawakannya seikat bunga mawar, ’sangat cantik’ laura memuji, walaupun laura sama sekali tek melihat aau mencium bunga itu. Martin juga membawakan sekotak kado yang berisikan gaun merang yang sanga cantik. Martin pun memakaikannya, namun dia juga meminta bercina disiang itu. Ketika gaun itu dipakaikan, punggung Laura terlihat memar. Wajah Laura terlihat sangat tertekan, dia sepertinya tak bisa menikamati kegiatan bercintanya dengan Martin. Usai bercinta, Martin langsung keluar rumah, dan Laura hanya bisa merenung, memandang keluar rumah lewat kaca jendela kamarnya.

Saat makan tiba, Laura diam, Martin pun menyadari kediamman istrinya tersebut. Dianyalah apa keinginan Laura saat itu. Ternyata Laura ingin bekerja, namun Marin mengingatkan bahwa dulu ketika Laura bekerja banyak pekerjaan rumah yang tidak selesai dan dua kali mereka tidak bisa makan malam karena Laura pulang terlambat. Mereka akhirnya bertengkar, martin menganggap perengkaran itu sengaja dibuat agar acara berlayar malam ini gagal karena Laura takut dengan air. Martin pun berusaha meyakinkan Laura agar Laura tidak menolak dan takut dengan pelayaran nanti malam karena dia berjanji akan menjaganya dari apapun.

Malam itu pun mereka jadi pergi berlayar dengan dokter John. Bulan bersinar terang, namun lama-kelamaan bulan pun meninggalkan mereka sendiri ditengah lautan. Dan tiba-tiba hujan turun, semakin lama semakin deras dan badai pun tak dapat terelakan. Kilatan-kilatan petir saling menyambar seakan ingin menyambar mereka. Air hujan pun mulai menggenagi kapal mereka. Layar kapal mereka terlepas, Jhon dan juga Martin sangat sibuk dibuatnya, bahkan Martin pun terjauh kelaut, namun mereka terselamatkan. Sedangkan Lura yang sedari tadi duduk dibagian belakang kapal, tiba-tiba menghilang begitu saja sewaktu mereka sedang sibuk menyelamakan diri dari badai. Martin sentak kaget dan berteriak menyesal. Martin pun memanggil bantuan, halikopter pun diterjunkan namun tubuh Laura tak ditemukan, dan mereka hanya menemukan pelampung yang digunakan Laura.

Laura telah hilang, Laura telah meninggal. Upacara pemkaman laura pun diselenggarakan. Marin, yang sangat mencintai Laura tak heni-heninaya mencari Laura. Malam itu ia mencoba berlayar lagi, berharap ada jejak dari Laura. Namun ternyata Laura belum meninggal, sepertinya dia sengaja menjatuhkan diri kedalam laut. Dan ia bersembunyi di sebuah pembatas apung yang tak jauh dari tepi panati itu. Laura melihat suaminya mencarinya, ia bersembunyi di batas apung itu, ia menatap kerumahnya, ‘malam itu kematianku, dan seseorang terselamatkan’- seseorang takut air tapi belajar renang, seseorang yang tahu kegelapan, tapi tahu cahaya akan menunjukan jalannya’. Itulah yang diucapkan Laura saat itu, saa memperjuangkan kebebasannya. Laura pun terus berenang ketepian, ia tahu kalau suaminya tak akan berada dirumah karena mencarinya. Laurapun melewati jalan gelap yang sebelumnya lampunya telah ia pecahkan. Ternyata ia berniat kabur dari suaminya. Sesampainya dirumah, iapun mengambil perbekalan yang telah disiapkan sebelumnya, ada pakaian, sepatu dan sejumlah uang yang ia masukan dalam sebuah tas. Laurapun mencukur rambutnyayang panjang menjadi sebahu, agar ia bisa dengan mudah memakai wig agar tak ada seorang pun mengenalinya.

Laurapun meninggalkan rumahnya dengan menggunakan bus, Laura terlihat sangat lelah sampai-sampai ia tertidur dibahu seorang lelaki uyang berada disebelahnya. Namun ia pun terbangun. Ditengah perjalanan, ada seorang ibu menawarkan apel hijau padanya, ia suka, dan oleh ibu itu ditanya tujuan Laura. Laurapun menceriakan beberapa kisah hidupnya dan sekarang ia ingin berada dekat dengan ibunya yang berada di panti jompo. Dia mengatakan bahwa ibunya mengalami penganiayan dari suaminya, dan akhirnya kabur dari rumah, ia juga mengatakan kalau sekarang ini ibunya tidak bisa melihat dan tak bisa menggunakan tangan kirinya akibat stuk yang dideritanya.

Iowa, adalah tempat tujuan Laura tinggal setelah meninggalkan suaminya. Dia sangat terkesan, banyak hal yang jarang ia lihat sebelumnya, ada anak kecil yang asyik bermain air ditaman, dia sangat senang melihatnya. Setelah tiba disana, Laura tentu membutuhkan empat untuk menginap, iapun menghubungi Ira Neeper untuk menyewa sebuah rumah. Iapun mendapatkan rumah tersebuat dengan membayar sejumlah uang $ 700. Laura pun senang walaupun rumahnya tak secanttik dan sebersih rumahnya dulu.

Iapun duduk diberanda rumah, diapun mandi. Ditatap handuk kecil yang berada disamping kloset, diapun mengingat suami yang ia tinggalkan, diacak-acaklah handuk itu, mungkin semacam bentuk penolakan atas perilaku suaminya waktu dirumah apa lagi hal itu juga mengingakannya pada masa sebelum ia keluar dari rumah. Iapun mengacak-acak makanan kaleng yang berada didalam almari. Ya, Laura sangat tertekan dengan semua hal yang sering dilakukan bersama dengan suaminya Martin. Bahka diapun tak suka dengan lagu yang suka dia dengarkan bersama Martin, mungkin semua kebiasaannya adalah hantu baginya.

Di rumah barunya ia mendapati seorang tetengga yang sedang asyik bernyayi sambil menyirami tanaman di halaman rumahnya, Laura sangat senang melihatnya namun laki-laki itu sadar jika ia sedang diperhatikan oleh seseorang, laki-laki itupun diam, Laura langsung bersembunyi. Malamnya ia melihat ada pohon apel yang sedang berbuah lebat. Laurapun tak tahan untuk memetik apel itu. Iapun memetik banyak sekali, namun tetangga sebelahnya menegurnya, karena takut, laurapun menjatuhkan dan meninggalkan semua apelnya di tanah.

Tak lama kemudian laki-laki itu mengunjungi rumah Laura dan meminta maaf telah membuatnya takut dan membawakan apel yang telah dipetik Laura. Laki-laki itupun mengajak Laura berkenalan, namun Laura takut mengatakan identitasnyadan laki-laki itupun memperkenalkan diri dengan nama Ben Woodward. Ben pun mengajak Laura untuk makan malam bersamanya esok.

Keesokan harinya Laura pun membawakan pie apel buatannya pada Ben. Setelah pertemuan itupun mereka semakin dekat dan saling menyukai. Tetangganya merasa ada yang aneh pada diri Laura, disaat ini Laura merubah namanya menjadi Sara Wateer. Dan Ben menawarkan Laura sebuah pekerjaan. Ben masih merasa ragu dengannya, karena ketika dipanggil Sara, dia sama sekali tak menyadari kalau ada yang memanggil dia. Ben terus mendesak Sara, akhirnya Sara pun marah dan mereka berdua berpisah di tengah jalan. Saat pulang kerumah sarah meminta maaf pada Ben dan menceritakan bahwa ia telah memikiki suami yang kejam, Ben pun memahami itu dan akhirnya Ben membantu Sara untuk menemui ibunya. Kebettulan Ben merupakan pengajar Drama diakademi Seaterfalls, Sara diajaknya kesana dan diberi kejutan yang sangat spesial, mereka senang malam itu. Dan esoknya, Sara berkunjung ke panti jompo untuk menjenguk ibunya dengan berpenampilan laki-laki. Iapun menceriakan kalau dia telah meninggalkan suaminya ‘Martin’. Ibunya sangat iba mendengar ceritanya.

Namun disaat bersamaan, suaminya ‘Martin’ juga sedang berkunjung menjenguk ibu Laura. Dia mengetahui jejak Laura karena ada seseorang wanita yakni eman Laura berlatih renang menghubunginya via telfon. Teman Laura itu memberi informasi bahwa Laura bisa berenang. Dan ia menceritakan bahwa kata Laura ia sering mnedapti tubuh laura memar karena kesukaannya senam. Sentak Martin kaget dan juga marah karena ternyata Laura mungkin masih hidup dan meninggalkannya. Diapun mencari informasi pada pengurus panti jompo ibu Laura yang lama. Dari situ Martin mengetahui bahwa sebenarnya ibu Laura belum meninggal dan telah pindah panti sejak enam bulan yang lalu. Martin pun meyuruh polisi untuk mencari informasi tentang keberadaan Laura dan juga ibunya.

Dan akhirnya hari ini dia menemukan dimana ibu Laura dirawat. Disitu ia mengaku sebagai polisi dan bertanya pada ibu Laura, karna buta ibu Laura ak menyadari bahwa yang sedang berbincang dengannya adalah suami Laura yang kejam, bahkan setelah Martin memperoleh informasi ia hendak membunuh ibu Laura, namun seorang perawat datang dan niat itu pun gagal. Beberapa saat kemudian Marin menyuruh seorang perawat supaya mencari tahu siapa saja yang telah mengunjungi ibu Laura. Sebenarnya Martin telah menemukannya, namun karena Laura keluar terlebih dahulu akhirnya iapun tak menemukan Laura.

Namun Martin telah memperoleh informasi bahwa Laura memiliki teman yang mengajar drama di akademi Seaterfall. Ia pun mencari laki-laki itu. Awalnya ia salah sasaran, namun beberapa saat kemudian ia menemukan Ben. Martin mengikutinya, sampai akhirnya ia melihat Laura bersamanya disebuah karnaval. Marinpun mengikutinya sampai dirumah Laura. Laura semapat kaget ketika dia menyalakan tipe, musik yang tak disukainya menyala, namun Laura berusaha menghilangkan rasa takut. Sesampainya dikamar mandi, iapun mendapati handuk kecil tertata rapi, karena tak percaya iapun keluar memeriksa almari tempat penyimpanan makanan kaleng, ternyata masih berantakan, iapun tenang. Saat kemudian alarm kebakaranpun nyala, Laura langsung lari dan mencabut alat masak yang terbakar dan mematikan alarm kebakaran. Akhirnya Laura pun hendak masuk kedalam kamar, saat lewat di kamar mandi ternyata air dalam bak mandi tumpah, ia pun membuka penutup air, dan ketika berbalalik, ia dapai handuk kecil yang tertata sangat rapi, iapun berlari memeriksa almari penyimpanan kaleng makanan, iapun kaget kaleng-kaleng yang awalnya berantakan kini terata sangat rapi.

Laura ketakutan dan hendak berlari kedepan, ia memanggil-manggil Ben, namun Martin tengah berada dibelakagnya. Dan Laura pun diancam dengan sebuah pistol. Saat itu pula Ben datang menanyakan keadaan Laura, namun Luara yang terancam memaksanya pulang, wajahnya ketakutan dan sempat meneteskan air mata. Ben penasaran denagn Laura, setelah pintu ditutup Ben melihat rumah Laura dari atas pintu rumah Laura yang tepasang dari kaca, ia pun melihat Laura sedang bersama dengan Martin. Saat itu pula Ben memaksa masuk dan mendobrak pintu rumah. Martin sempat terjatuh, perkelahian pun ek terelakan, namun Ben pingsan. Kembali Martin mendekati Laura dan mengancamnya. Akhirnya laura pun menendangnya dan menjatuhkan pistolnya. Laura mengambil pistol itu dan mengarahkannya pada Martin, Martin tak takut, dan menyarankan Laura untuk menelfon polisi. Akhirnya Laura pun menelfon polisi dan mengatakan behwa ia telah membunuh laki-laki yang telah mesuk kedalam rumahnya. Dan setelah itu Laura menembak Martin dengan empat kali tembakan didadanya. Dan akhirnya Martin pun meninggal. Sekian.

Apa yang dapat kita ambil dari film tersebut?
Kalau dari saya sediri, kita dapat mengambil hikmah atas refleksi film ini bahwa siapapun, baik laki-laki ataupun perempuan tidaklah dibenarkan untuk melakukan kekerasan baik fisik maupun psikologi. Karena semua itu akan memberi dampak negatif bagi korban ataupun bagi pelaku. Komunikasi, pengertian merupakan jalan supaya kita dapat memperkecil kemungkinan adanya ketimpangan atau dominasi salah satu pihak, walaupun sebenarnya hal tersebut sangat sulit dilakukan karena keterbatasan-keterbatasan kita sebagai manusia biasa. Apapun bentuknya, yang manamanya kekerasan harus kita lawan dan keadilan harus kita perjuangkan terus.[]

Tuesday, 6 January 2009

Menulis itu susah chuiy…


oleh : wahyu

Hampir satu bulan ini aku tak lagi menulis. Padahal udah ikutan pelatihan nulis lo, tapi tetep aja males buat nulis. Kata cowoku menulis itu mudah, kalau kita udah terbiasa nulis. Gimana lagi ya? Ketertarikanku pada hal tulis-menulis aja baru.

Dulu, pertama kali aku nulis tu udah lama banget ya, jaman-jaman SMP kalau nggak salah, itupun cuma sekedar nulis di buku harian, cuma curhatan gitu. Hanya saja waktu itu aku sempet trauma nulis gara-gara tulisanku kebaca ibuku. Pertama aku dimarahin abis-abisan karena isi tulisanku tentang pacar pertamaku waktu itu, maklum masih kecil kan nggak boleh pacaran. Kali kedua, aku disinisin sama ibuku juga karena tulisan tentang ketidaksukaanku pada ibuku sendiri yang suka marah-marah ga jelas. Setelah itu aku sering menyembunyikan buku isi tulisanku, tapi susah juga, ketahuan terus ya... akhirnya aku buang semua deh.

Beberapa ini aku coba nulis, awalnya si semangat tapi kalo udah didepan komputer nih rasanya kata-kata yang terpikirkan hilang entah kemana. Baru beberapa kalimat aja udah ngeblenk. Kalau sekedar memikirkan judul tulisanya mah cepet tapi ketika mesti mengeksplornya itu yang susahnya minta ampun.

Dalam minggu ini, aku lagi terpacu lagi buat nulis. Mungkin karena cowoku baru aja dapet hadiah dari aktifitas ngeblognya. Lumayan lo, dapet 5jt bo, gede kan. Sapa tahu aku bisa beruntung juga. Walaupun aku sendiri rada pesimis bisa seperti dia, jauh lah. Tulisannya udah bagus, ga kaya tulisanku. Tapi mending lah, selama ini cuma dia yang bisa dijadiin motifasi buat nulis, entah nulis waktu aku marah, sebel atau senang.

About Me

Saya seorang perempuan. Tepatnya seorang manusia. Seperti kalian ...

YM State

Buku Tamu


ShoutMix chat widget
Template by KangNoval & Abdul Munir | blog Blogger Templates