Friday, 16 January 2009

“Orang Miskin Dilarang Sakit”


Oleh: Wahyuningsih

Sepertinya ungkapan itu benar, seminggu yang lalu kakaku masuk rumah sakit umum di Banyumas karena jantungnya bengkak. Beberapa hari dirawat, sepertinya kesembuhan pun jauh darinya, malah bertambah parah. Dokter mengaakan bahwa kadar kreatine dalam darahnya mencapai 13 dan harus cuci darah secapatnya. Dengan segala pertimbangan, orang tua saya pun memutuskan untuk melakukan cuci darah. Dan setelah cuci darah, kaa dokter kadar kreatin turun menjadi 10. Kakaku terlihat sehat, diapun pulang setelah cuci darah. Seminggu berada di rumah sakit umun pun telah menguras uang sebanyak 2juta lebih.

Sepulang dari rumah sakit, kakaku pun bisa tidur nyenyak, hanya sekali-kali ia alami mimpi buruk pasca cuci darah. Mungkin sedikit trauma. Kini makanannya saja mesti diukur,nasi tim, roti tawar, makan daging hanya satu pitong kecil, telor boleh sehari tiga kali tapi kuning telornya hanya boleh dimakan satu saja, sayuran hanya sayur tertentu kaya buncis-wortel, dan semua masakan tak boleh boleh mengandung garam terlalu banyak, buah- hanya apel hijau yang boleh dimakan dan hanya satu iris keciiil banget. Dan yang lebih parah, dia hanya boleh minum sebanyak satu gelas sehari. Padahal ia mesti meminum obatnya sehari tiga kali yang satu kalinya berisi 2-3 butir obat yang cukup besar. Pernah dia memintaku untuk menanyakan pada teman saya yang bekerja sebagai perawat, apa dia bisa minum lebih dari satu gelas. Karena itu sangat menyiksanya.

Dan seminggu kemudian, tepatnya hari ini kakaku kambuh. Semalam dia tak bisa tidur, gelisah, sesak nafas, dan muntah-muntah. Ibu dan istrinya panik, mereka bingung, bingung mau bagaimana, opnam apa engga. Hari itu, ibuku membawa kakaku kerumah sakit wisnu husada dekat rumah, disana mas Anton diperiksa darahnya. Dalam laporan itu disebutkan bahwa kadar kreatin dalam darah 1,3 dan itu normal. Sedang kadar ureum nya mencapai 76, 26 lebih tinggi dari ureum normal yakni 10-50.

Melihat laporan itu, sentak ibu saya kaget, karena kemarin dokter menyebutkan kadar ureumnya masih 10. dan kata Imam teman Firdaus dengan kadar kreatin yang setinggi itu, program HD (cuci darah) seminggu dua kali saja belum tentu bisa normal. Dan dengan melihat hasil reka medik yang kedua akupun merasa tertipu dengan penanganan rumah sakit itu.

Akhirnya kamipun mencoba keberuntungan baru dengan mencoba rumah sakit lain, kali ini rumah sakit swasta. Tentu saja lebih mahal (bagi keluarga saya tentunya), biaya kamar semalam saja Rp225.000, itupun masih kelas ekonomi. Dan tetangga saya yang pernah dirawat dirumah sakit itu telah menghabiskan sekitar 10 juta selama kurang lebih satu minggu.

Di Bunda, kakak saya diperiksa lagi, ternyata Hb nya sangat rendah hanya 3 dengan kadar Hb normal sekitar 12,5. sepertinya akibat HD yang dilakukan ketika berada di RSUD Banyumas. Dan persediaan darah di PMI untuk kakaku (O) kosong, sehingga kita mesti mencari orang yang mau menyumbangkan darahnya. Aku diberitahu oleh mba Erna saat aku berada di Warteg pak Slamet depan kampus. Sentak aku kaget, membayangkan hal buruk yang akan terjadi pada kakaku. Aku kira mas Anton mesti HD lagi, ternyata tidak.

Akupun langsung menanyakan kebeberapa orang yang berada disitu, air mata ini tak bisa aku bendung lagi, malu sebenarnya. Trus ada seseorang yang mengatakan kalau anak KMPA banyak yang memiliki golongan darah O. Kamipun langsung menuju sekre KMPA. Tapi tak aku temukan orang yang memiliki golongan darah tersebut. Kami juga mengirim kebeberapa teman yang sekiranya bisa membantu kami untuk mendonorkan darahnya.

Disekre sianak kami mendapati Tino, ternyata dia memiliki golongan darah yang sama dengan kakaku dan dia pun siap mendonorkan darahnya. Diapun langsung menuju PMI untuk diambil darahnya bersama dengan Firdaus. Sementara aku sendiri mencari beberapa teman lain yang mungkin bisa menyumbangkan darahnya. Sesampainya disamping Aula ada yang memberitahu via sms bahwa Ardi teman sekelasku mempunyai golongan darah O. Akupun langsung menghubunginya, namun dia tak bisa langsung menemuiku karena tak ada kendaraan.

Sesaat kemudian Doyok, yang sempat bertemu denganku di sekre Solid memberitahu bahwa temannya ada yang bersedia mendonorkan darahnya. Akupun langsung menemuinya dan neranjak ke RS Bunda. Ternyata Doyok punya dua teman yang bisa menyumbangkan darahnya lagi. Ya, aku cukup senang karena memang kakaku sangat membutuhkan banyak darah paling tidak 4 kantong darah yang didapat dari 4 orang pendonor. Sampai di PMI, kami pun langsung mengambil darah mereka. Ternyata kita juga mesti menunggu selama 2-3 jam untuk menunggu proses pemeriksaan darah.

Aku cukup tenang melihat kakaku yang sedang tidur pulas, karena dua hari sebelumnya kakaku sama selaki ak bisa tidur. Nafasnya sesak, batuk-batuk, mutah dan gelisah. Walaupun sat inipun kadang nafas kakaku masih terasa tersendat-sendat dan berat.

Melihat keadaan yang demikian, membuat hati ini menjadi iba. Aku merasa kasihan pada ibuku yang setiap malam menungguinya dengan sabar, mba Erna yang suka mengeluhkan keadan ini, dan adeku paling kecil yang tak bisa aku temani setiap saat dan bapakku yang semakin tua yang semakin menanggung beban yang teramat berat.

Dan hari ini tepat ulang tahunku yang ke 22. Kehidupan semakin terasa berat.[]

.

1 comments:

Anonymous said...

Emang gitu mbak...
Ada perbedaan perlakuan antara orang kaya dan miskin
Rumah sakit yang seharusnya menjalankan fungsi sosialnya jadi berubah komersil
Visi dan Misi yang dipasang di dinding Rumah sakit berubah fungsi menjadi sekedar pajangan belaka

Yang kena kita yang gak berduit
Entah yang salah kebijakan pemerintah
atau Oknum Rumah sakit

About Me

Saya seorang perempuan. Tepatnya seorang manusia. Seperti kalian ...

YM State

Buku Tamu


ShoutMix chat widget
Template by KangNoval & Abdul Munir | blog Blogger Templates