Wednesday, 27 January 2010

Sepenggal cerita…..




Diluar cerah, tapi hati tak dapat secarah hari ini. Apa benar ini semua kesalahanku? Akupun tak tahu, akupun telah kebal dipersalahkan terus menerus. Sampai hilang rasa itu, mancapai titik kekebalan hati tingkat tinggi.

Banyak cerita-cerita suram yang telah aku dengar. Dari tiap kost yang aku lewati, ada saja cerita suram yang menghinggapi kehidupan perempuan. Perempuan yang aku pikir telah berkorban banyak bagi pasangannya. Kadang aku pun takut untuk mendengarnya lagi.

Diujung Purwokerto, berjejer kost-kost yang mulai sepi pengunjung. Karena sepinya, kini kost itu diperbolehkan untuk dihuni oleh pasangan-pasangan diluar nikah ataupun hanya nikah siri.

Mala dan anto, salah satu penghuni kost itu. Adalah pasangan nikah siri yang konon karena beda agama dan ras akhirnya memutuskan untuk nikah siri. Mereka dipertemukan karena obat terlarang katanya. Dulu Mala sempe dicari polisi karena ketahuan make. Dan akhirnya ditolong oleh Anto. Dan disuruh tinggal dikost tsb.

Mala : Aku dulu nakal banget, aku ga nerusin sekolah, karena emang orang tuaku juga kurang mampu dan akhirnya aku menikah dan hamil dengan seorang supir bus antar prop. Tapi setelah melahirkan, akupun cerai dengannya. Aku ke Purwokerto, disini aku pernah jadi simpenan orang pertamina. Aku mah jadi orang bisa nglakuin apapun demi uang. Selama aku jadi simpenan orang ini, aku bisa hidup mewah. Apapun yang aku ingin bisa terpenuhi juga memenuhi kebutuhan keluarga dan anakku yang ada di rumah. Tapi, akhirnya aku suka ma anak Unsoed. Awalnya ce dia baik, aku juga sempet jalan ma dia. Tapi lama-lama dia kayanya cuma manfaatin aku. Awalnya dia bilang orang tuanya ga ngasih duit spp, ya aku kasih. Kedua dia bilang hp nya rusak, akhirnya aku ga tega ya tak beliin. Akhirnya, si pertaminanya tahu. Dan mutusin aku. Sejak itu aku kapok pacaran sama mahasiswa.

Sebelum aku nikah ma Anto, aku sempet jual diri cuma biar bisa megang duit. Dulu aku pura-puranya mahasiswa, coz kalo ngakunya mahasiswa kan tarifnya bisa lebih mahal. Dulu aja aku dapet Rp600.000. aku nglakuin itu 2x. dan setelah itu aku ketemu Anto.

Pertama ketemu Anto, sangat baik, orangnya melindungi, ya karena emang waktu itu aku butuh banget perlindungan. Sejak itu juga, dia yang membiayai hidupku sampai hari ini. Aku baru kenal dekat ma dia tiga bulan ini. tapi dia langsung mengajakku untuk menikah dan akhirnya memang aku menikah walaupun siri.

Aku ngrasa ada perbedaan, sebelum dan pasca nikah. Ada yang beda, kalo dulu sebelum dia nikah ga suka minum alcohol, entah apa sekarang dia suka minum. Udah gitu, dia suka main dibawah, rame-rame se. tapi ada satu perempuan disitu. Dan aku penah liyat dia lagi bercumbu ma penjaga kost. Aku takut suamiku kebawa juga. Aku tahu dia suka beliin minuman juga buat perempuan tadi.

Aku tak tahu kenapa sekarang setelah nikah malah jadi seperti ini. kauangan jadi ga transparan. Padahal sebelumnya, tiap hari aku selalu dikasih uang belanja 50-100 ribu sehari. Sekarang bisa ga sama sekali. Aku kadang sedih ngliat tingkah suamiku yang kaya gitu, aku kadang pingin marah. Tapi aku ingin mempertahankan rumah tangga ini. aku ingin mencoba bertahan dalam keadaan apapun.

Nana : aku wanita mandiri semenjak kuliah. Aku udah mulai berbisnis kecil-kecilan, dan sampai sekarang pun masih bertahan. Aku menikah dengan teman mantan pacarku. Karena dulu pacarku suka selingkuh dan ‘jajan’. Aku ga kuat akhirnya aku diajak nikah oleh temannya sendiri. Aku pun menikah kurang lebih enam tahun. Aku merasa sangat bahagia, aku pikir didunia ini, akulah pasangan paling bahagia. Suamiku sangat mengerti aku, dia selalu membantuku.

Satu tahun ini adalah tahun terburukku. Aku memergoki dia selingkuh dengan teman kerjanya. Aku sampai pingsan tak tahan, aku liyat dengan mata kelapaku sendiri dan perselingkuhan itu dilakukan dirumahku sediri. Kejadian itu terjadi dua kali. Aku mencoba untuk sabar karena memang aku mencintainya. Meskipun demikian, dia malah yang menuntut cerai dariku. Saat aku sedang hamil dan satu bulan lagi melahirkan. Dia masih tetap menuntut perceraian.

Aku tak bisa membayangkan bagaimana nasibku setelah banyi ini lahir. Dan bapaknya menceraikanku. Aku mesti mengurus semua, pekerjaan, dan juga bayi ini. aku sempat berpikir untuk menitipkan bayi ini pada mertuaku, tapi dia tak mau merawat sepenuhnya, sedang ibuku tua. Aku sendiri mesti bekerja. Aku bingung. Selama ini, aku telah menjadi tulang punggung keluarga. Tapi kenapa keluargaku seperti ini. aku memahami suamiku yang tak bisa sepenuhnya menafkahiku, tapi dia juga menuntutku untuk jadi istri baik ala jaman dulu. Yang siap siaga kapanpun dia mau, mampu mengerjakan semua dari memesak, mencuci, sampai urusan ranjang. Aku berusaha menjadi seperti yang ia mau. Tapi kenapa perceraian yang ia pilih. Aku cukup mengalah. Dan sampai detik ini aku masih mengalah.

Tia : aku , seperti yang kamu liyat hari ini, tak ada beda dengan wanita yang lain. Wanita yang ingin menjadi wanita baik-baik. Seperti halnya wanita lain akupun ingin menjalin hubungan dengan laki-laki baik. Yang menyayangiku, mencintaiku. Aku menjalin hubungan dengan laki-laki yang cukup mapan, dewasa pula. Seperti orang kebanyakan akupun pacaran dengannya. Komunikasi lancar dan aku suka jalan-jalan dengannya. Sampai akhirnya aku jalan-jalan keluar kota. Kami menginap bersama. Aku tak tahu apa yang terlintas saat itu, tapi akhirnya aku melepas perawanku dengannya.

Setelah kejadian itu, aku sering kali making love dengannya. Aku mau, karena dia menjanjikan pernikahan untukku. Aku pikir dia orang baik.. Aku terus memintanya untuk menikahiku, tapi tak dinikahi juga. Beberapa saat kemudian, aku tahu ternyata dia beristi yang punya dua anak dan sekarang istrinya hamil lagi. Sentak aku kaget, bingung, dan juga takut. Aku takut menghancurkan rumah tangga orang, tapi aku juga takut kehilangan orang yang telah ngambil keperawananku.
Aku bingung, aku terus mencari pembenaran atas perbuatanku. Karena memang awalnya aku tak tahu kalau pacarku ternyata beristri beranak tiga lagi. Kalau tahu, mana aku mau denganya. Malam ini, pacarku bilang mau menikahiku dan menceraikan istrinya. Aku senang, tapi aku juga takut dipersalahkan. Aku bimbang.[]

Bagaimana memaknai hidup




Selama ini aku sering kali mudah merasa jenuh. Entah dengan keseharianku, kuliahku ya semuanya lah. Dan hari-hari ini waktuku hanya habis buat baca buku. Lagi-lagi bosan menghantuiku. Pagi ini, setelah senam pagi aku membantu mba Mala masak. Kadang mengasyikan tapi juga menyebalkan karna banyak lalat beterbangan membaui makanan yang hendak dimasak.

Setelah itu akupun mandi. Seperti orang yang baru dapat wangsit tiba-tiba ada keinginan untuk pulang kerumah saat itu juga. Tak berlama-lama akupun memakai celana panjang, jaket lengkap dengan kaus tangan karena kahi ini cuaca cukup panas.

Dengan kecepatan 60/70 km/jam akupun menuju rumahku. Sepi, ya rumahku emang sepi. Cuma ada ibuku yang rada cerewet dan mas ku yang sampai saat ini masih menganggur dan sangat betah dirumah. Akupun menyandarkan tubuhku pada kursi depan tv. Beberapa saat kemudian adekku datang merengek minta jangkrik. Katanya ada yang jualan, 1 nya 500/1000 rupiah. Setelah diberi uang adekku masih juga merengek, e..belum dapet jangkriknya dia minta dibikinin kandang dulu. Dan dia minanya kandang yang make bambu. Ya siapa coba yang bisa bikin kandang kaya gitu. Diomelin jadinya sama ibuku. Sesaat kemudian aku melihatnya, niat mau mengajaknya beli dan memberikan alternative lain selain make bambu. Tapi ternyata adikku udah lelap tertidur.

Jam 2an, aku memutuskan balik Purwokerto. Setelah mengambil beberapa buku chasan dan mkanan. Aku mencari kesekeliling rumah, niat mau pamitan sama ibuku, namun tak ku temukan. Akhirnya aku pergi begitu saja.

Ditengah perjalanan aku sempat memikirkan sesuatu. Memikirkan bagaimana caranya jika aku pulang, ibuku tersenyum menyambutku. Memikirkan bagaimana menjadi anak yang selalu diharapkan pulang dan ditanya kabarku disini. Memikirkan semua hal yang mungkin sebenarnya bermakna bagi orang lain dan untukku sendiri,,,entahlah.

Sampai saat ini, aku tak tahu sebenarnya tujuan keberadanku. Selain hanya mengikuti arus kehidupan yang memang ditakdirkan ada. Dulu, waktu kecil aku sempat memikirkan kenapa namaku wahyu, dan bagaimana jika namaku bukan wahyu. Apa akan menjadi seperti aku saat ini ataukah tidak. Dulu sempat aku bertanya pada ibuku, kenapa bisa nikah sama bapak. Jawab ibuku, itu suatu kejadian yang tak terduga karena dulu hubungannya memang tak direstui oleh orang tua ibuku. Dulu katanya ibu pernah pacaran sama orang yang sekarang jadi polisi tapi ga jadi. Dan aku tanya, kenapa ga jadi. Mungkin kalo ibu dulu nikah sama polisi kan aku sekarang tinggal dikota, eh…tapi belum tenntu juga. Kalo jadi sama polisinya anaknya ibu bukan aku ya? Jadinya kaya apa ya. Pasti ga secantik aku, hehe.

Kadang aku bingung melakukan hari ini agar lebih menyenangkan itu seperti apa. Kadang aku ingin seperti pacarku yang puas dengan membaca buku dan main hot spotan sampai pagi. Sepertinya sangat menikmati. Ya…aku pernah mencobanya namun tak berhasil malah aku jadi suka begadang dan nongkrong ga nggenah, insomnia dan sekripsiku sampai saat ini belum kelar juga.

Kadang aku iri dengan pacarku. Ya mungkin memang dia punya segudang kecerdasan dan juga kepedean yang kelewatan kali ya. Tapi biarlah, aku tak mungkin jadi sepertinya dan aku rasa tak asyik juga kaya dia. Masa pacaran dengan kepribadian yang sama. Mungkin akan lebih membuatku bosan.

Bosan, kata ini pernah aku lontarkan pada rekan kerjaku dulu. Aku bilang, aku gampang bosan, termasuk kerjaan jadi kalo ga da variasi ya itu akan sangat membunuhku. Entah bagaimana jalan pikirannya tiba-tiba dia menyimpulkan kalau aku juga gampang bosan dalam berpacaran. Padahal saat ini aku telah berpacaran kira-kira tiga tahunan, lama kan. Dan aneehnya lagi dia mengkaitkan kebosannan dengan hubungan seksual. Mungkin karena dia memang telah beristri. Jadi jika salah satu pasangan bosan, berarti bosan dengan alat vital pasangannya. Kesimpulan yang sanga sederhana. Tapi mungkin saja, karena mereka pasangan suami istri.

Aku sempat menanyakan beberapa hal saat kita masih berada ditempat kerja yang sama. Pertanyaan simple, apa yang kamu lakukan setelah kerja ? Orang itu menjawab, setelah kerja ya pulang, dan istriku pasti telah menyiapkan beberapa makanan. Dan kadang aku bermain dengan anakku. Karena aku sangat menyayanginya. Kadang aku ingin memaknai hidupku seperti rekanku, begitu sederhana dan terlihat membahagiakan.

Hari ini, perjalananku pulang sangat memberikan perenungan yang cukup dalam. Dalam proses pencarian ini aku akan lebih memberi makna pada jalan-jalan kecil yang aku lewati. Pada orang-orang yang bertemu aku hari ini dan hari esok. Sekecil apapun aku akan coba maknai semua tindakanku. Membahagiakan orang lain tentunya. Dan semoga aku tak merasa bosan lagi.[]

About Me

Saya seorang perempuan. Tepatnya seorang manusia. Seperti kalian ...

YM State

Buku Tamu


ShoutMix chat widget
Template by KangNoval & Abdul Munir | blog Blogger Templates