
Selama ini aku sering kali mudah merasa jenuh. Entah dengan keseharianku, kuliahku ya semuanya lah. Dan hari-hari ini waktuku hanya habis buat baca buku. Lagi-lagi bosan menghantuiku. Pagi ini, setelah senam pagi aku membantu mba Mala masak. Kadang mengasyikan tapi juga menyebalkan karna banyak lalat beterbangan membaui makanan yang hendak dimasak.
Setelah itu akupun mandi. Seperti orang yang baru dapat wangsit tiba-tiba ada keinginan untuk pulang kerumah saat itu juga. Tak berlama-lama akupun memakai celana panjang, jaket lengkap dengan kaus tangan karena kahi ini cuaca cukup panas.
Dengan kecepatan 60/70 km/jam akupun menuju rumahku. Sepi, ya rumahku emang sepi. Cuma ada ibuku yang rada cerewet dan mas ku yang sampai saat ini masih menganggur dan sangat betah dirumah. Akupun menyandarkan tubuhku pada kursi depan tv. Beberapa saat kemudian adekku datang merengek minta jangkrik. Katanya ada yang jualan, 1 nya 500/1000 rupiah. Setelah diberi uang adekku masih juga merengek, e..belum dapet jangkriknya dia minta dibikinin kandang dulu. Dan dia minanya kandang yang make bambu. Ya siapa coba yang bisa bikin kandang kaya gitu. Diomelin jadinya sama ibuku. Sesaat kemudian aku melihatnya, niat mau mengajaknya beli dan memberikan alternative lain selain make bambu. Tapi ternyata adikku udah lelap tertidur.
Jam 2an, aku memutuskan balik Purwokerto. Setelah mengambil beberapa buku chasan dan mkanan. Aku mencari kesekeliling rumah, niat mau pamitan sama ibuku, namun tak ku temukan. Akhirnya aku pergi begitu saja.
Ditengah perjalanan aku sempat memikirkan sesuatu. Memikirkan bagaimana caranya jika aku pulang, ibuku tersenyum menyambutku. Memikirkan bagaimana menjadi anak yang selalu diharapkan pulang dan ditanya kabarku disini. Memikirkan semua hal yang mungkin sebenarnya bermakna bagi orang lain dan untukku sendiri,,,entahlah.
Sampai saat ini, aku tak tahu sebenarnya tujuan keberadanku. Selain hanya mengikuti arus kehidupan yang memang ditakdirkan ada. Dulu, waktu kecil aku sempat memikirkan kenapa namaku wahyu, dan bagaimana jika namaku bukan wahyu. Apa akan menjadi seperti aku saat ini ataukah tidak. Dulu sempat aku bertanya pada ibuku, kenapa bisa nikah sama bapak. Jawab ibuku, itu suatu kejadian yang tak terduga karena dulu hubungannya memang tak direstui oleh orang tua ibuku. Dulu katanya ibu pernah pacaran sama orang yang sekarang jadi polisi tapi ga jadi. Dan aku tanya, kenapa ga jadi. Mungkin kalo ibu dulu nikah sama polisi kan aku sekarang tinggal dikota, eh…tapi belum tenntu juga. Kalo jadi sama polisinya anaknya ibu bukan aku ya? Jadinya kaya apa ya. Pasti ga secantik aku, hehe.
Kadang aku bingung melakukan hari ini agar lebih menyenangkan itu seperti apa. Kadang aku ingin seperti pacarku yang puas dengan membaca buku dan main hot spotan sampai pagi. Sepertinya sangat menikmati. Ya…aku pernah mencobanya namun tak berhasil malah aku jadi suka begadang dan nongkrong ga nggenah, insomnia dan sekripsiku sampai saat ini belum kelar juga.
Kadang aku iri dengan pacarku. Ya mungkin memang dia punya segudang kecerdasan dan juga kepedean yang kelewatan kali ya. Tapi biarlah, aku tak mungkin jadi sepertinya dan aku rasa tak asyik juga kaya dia. Masa pacaran dengan kepribadian yang sama. Mungkin akan lebih membuatku bosan.
Bosan, kata ini pernah aku lontarkan pada rekan kerjaku dulu. Aku bilang, aku gampang bosan, termasuk kerjaan jadi kalo ga da variasi ya itu akan sangat membunuhku. Entah bagaimana jalan pikirannya tiba-tiba dia menyimpulkan kalau aku juga gampang bosan dalam berpacaran. Padahal saat ini aku telah berpacaran kira-kira tiga tahunan, lama kan. Dan aneehnya lagi dia mengkaitkan kebosannan dengan hubungan seksual. Mungkin karena dia memang telah beristri. Jadi jika salah satu pasangan bosan, berarti bosan dengan alat vital pasangannya. Kesimpulan yang sanga sederhana. Tapi mungkin saja, karena mereka pasangan suami istri.
Aku sempat menanyakan beberapa hal saat kita masih berada ditempat kerja yang sama. Pertanyaan simple, apa yang kamu lakukan setelah kerja ? Orang itu menjawab, setelah kerja ya pulang, dan istriku pasti telah menyiapkan beberapa makanan. Dan kadang aku bermain dengan anakku. Karena aku sangat menyayanginya. Kadang aku ingin memaknai hidupku seperti rekanku, begitu sederhana dan terlihat membahagiakan.
Hari ini, perjalananku pulang sangat memberikan perenungan yang cukup dalam. Dalam proses pencarian ini aku akan lebih memberi makna pada jalan-jalan kecil yang aku lewati. Pada orang-orang yang bertemu aku hari ini dan hari esok. Sekecil apapun aku akan coba maknai semua tindakanku. Membahagiakan orang lain tentunya. Dan semoga aku tak merasa bosan lagi.[]


0 comments:
Post a Comment