
oleh : wahyu
Akhir-akhir ini suasana kos begitu panas. Banyak hal-hal yang tak diinginkan terjadi. Pencurian beruntut menimpa teman satu kos kami. Awalnya ada salah satu teman kami –Woro- kehilangan sejumlah uang sebanyak Rp 200.000. kali ini warga kos menduga yang mencuri tak lain anak dalam kos sendiri. Setelah beberapa saat ada semacam drama untuk mengungkap siapa yang mengambil uang tersebut. Kita pura-pura mengadukannya pada salah seorang dukun (orang pintar). Drama pun kita jalankan, satu pagi menjelang sahur, salah satu penghuni telah membawa air yang konon dari orang pintar. Air tersebut telah diberi jampi-jampi yang barang siapa yang mengambil uang tersebut dan meminum air itu akan sakit dan tak akan tenang. Alhasil ada seorang anak yang secara sepontan memuntahkannya lagi di toilet. Kita semakin curiga, karena memang sebelumnya anak tersebut sering kali kel;uar masuk kamar Woro. Keesokkan harinya anak tersebu benar-benar sakit dan pada malam harinya ia pun mengakui perbuatannya dan mengembalikan uang yang ia ambil.
Selang beberapa minggu, ada kejadian kehilangan lagi. Kali ini menimpa anak yang telah mengambil uang Woro. Kejadian itu dialaminya ketika ia sedang pergi kewarnet sebelah kos bersama teman sau kosnya. Namun HP tak dibawanya, namun dititipkan dikamar temannya yang berada di barisan kamar paling depan. Kejadian itu berlangsung sekitar pukul 23.00 wib. Dan yang dijadiin tersangkapun orang dalam. Anak itupun tak terlalu mempermasalahkan hal tersebut, karena dia sendiri sadar munkin tak akan ada yang akan peduli pada ceritanya.
Untuk ketiga kalinya, kejadian samapun dialami pemilik kamar paling depan. Ketika itu, ia baru saja pulang, entah dari mana, dia baru pulang pukul 2 dini hari. Kebetulan yang membukakan pintu depan aku. Setelah itu, akupun kembali kekamar dan tidur. Didalam kamarkupun ada dua saudara dari Pekalongan yang sengaja main ingin liat Baturaden.
Dan pagi hari, tepatnya pukul 4 pagi, Novi gedor-gedor pintu kamarku. Sentak aku kaget dan langsung keluar. Dan dengan nada panik dia mengatakan bahwa HP-nya ilang. Dengan sedikit menahan kantuk aku pun menanyakan ‘ko bisa?’. Dan diapun menceritakan bahwa seusai ia masuk kosan, dia keluar lagi kewarnet, pintu kamar dan pintu depan tak dikunci. Beberapa kali, ia pun menghubungi no-nya namun tak ada jawaban. Setelah itu akupun menanyakan mau seperi apa? Apa kamu ingin meriksa orang-orang yang ada didalam kos? Novi mengiyakan. Dan akhirnya kamipun sepakat untuk saling membangunkan dipagi harinya. Dan akhirnya iapun keluar keempa temannya, mungkin ingin mencari ketenangan.
Dipagi harinya, aku bangun lebih awal, ternyata Novi belum juga pulang. Namun aku tetap membangunkan teman-teman satu kos dan menceritakan kejadian semalam. Aku sendiri ak menuduh anak dalam. Apa lagi saat itu yang berada di kos hanya ada empat anak (Novi, Rini, Woro, dan aku ). Kita pun memutuskan untuk memeriksa masing-masing kamar. Dan alhasil, memeng tak ditemukan HP apapun kecuali memang milik mereka sendiri.
Paginya, ibu Novi menelfonnya, dan tentunya dengan naluri keibuannya, tetap mengatakan bahwa yang mengambil HP tersebut adalah teman satu kos. Beberapa pakaian kotor yang ada dibelakang pun kami perikasa, dan tetap tak membuahkan hasil apa-apa.
Setelah beberapa hari, katanya dia telah menanyakannya pada orang pintar –ngga tahu bener-bener pintar apa engga-. Dan apa yang terjadi? Konon katanya yang nganbil itu aku. Katanya semua ciri-ciri menjurus kearahku. Katanya dia bekerja sama dengan orang luar yang tak mungkin menolak keinginan cewek cantik. Wah… untuk kata yang terakhir aku sangat senang tapi selebihnya tentu tidak.
Kaget juga kecewa sebenarnya, udah kenal lama, kenal bukan sehari-dua hari ko tega sekali pada nuduh yang engga-engga. Kenal bukan jaminan juga buat engga nyuri, tapi aku bukan tipikal orang yang demikian lah. Yang namanya nyolong kan nama baik yang bakal dipertaruhkan.
Selah beberapa minggu, aku pun mendapat tuduhan yang sangat amat jelas, lewat sms tentunya. Sms itu berbunyi ‘wahyu!kembalikan HP teman kamu yang kamu ambil!jika tidak perut kamu akan busung!dan jika kamu malu kembalikan ketempat semula’. Marah bukan main aku ini, sampai-sampai ingin aku keluar dari kuliah yang sedang aku jalani. Aku langsung aja sms ke Firdaus supaya dia siap-siap setelah aku pulang kuliah aku bakal kumpulin semua anak kosan.
Tiap aku ingat sms itu pingin rasanya aku maki-maki orang yang mengirimkan sms. Namun sayangnya sampai hari ini belum ada yang mengakui siapa yang mengirimkan sms tersebut. Dasar pengecut!
Dan, ada lagi satu anak baru yang masuk kekosan. Katanya baru semalam aja di kosan HP-nya langsung ilang juga uang sebesar Rp 85.000. Padahal uang tersebut berada di dompet dalam. Dan kemarin, dia juga kehilangan HP lagi, kali ini jelas orang luar yang ngambil, karena dipagi harinya cesannya tengah bergelantung diluar jendelanya. Dan yang bikin kita ngga habis pikir lagi, dia mengungkapkan bahwa kejadian tersebut sama persis ketika HP Novi hilang. Jadi pada dasarnya Novi itu paham bahwa yang mengambil HP-nya adalah orang luar. Namun mungkin karena dia tak mengungkapkan semuanya, padahal penting jadilah orang dalam seperti aku jadi sasaran. Ditambah lagi mereka lebih percaya dengan ‘orang pintar’ dari pada logika. Dasar ‘orang pintar’ bohong, dipercaya?.[]


0 comments:
Post a Comment