
Ayumi, sosok wanita yang baru saja beranjak dewasa, dia sangat cantik. Kala menapaki sisi kedewasaan, kadang ia mengalami kebingungan yang teramat. Dia sosok wanita yang cukup tegar dengan semua keadaan keluarga dan kehidupan yang kadang kejam. Dia bukan seorang yang kaya raya atau pun miskin. Namun kadang kesulitan yang menimpa keluarganya membuatnya banyak berpikir tentang berbagai hal yang kadang tak terbayangkan oleh kebanyakan orang.
Dingin malam menusuk sampai ketulangnya, ia pun tak bisa memejamkan kedua matanya. Terkadang sampai larut malam, ia hanya termenung melihat langit-langit kamar yang putih yang tak berubah. Lamunan panjang selalu menghinggapi tiap malamnya, yang kadang membuatnya tak bisa bangun pagi.
Pada suatu malam, ia menerima sebuah tellphone dari no yang tak ia kenal. Beberapa saat ia biarkan handphonenya berbunyi. Setelah beberapa lama akhirnya ia pun mengangkat telephone itu. Awalnya ia tak mendengar apapun. Setelah beberapa lama barulah ada suara laki-laki menyapanya. Suara itu tak asing baginya. Ya, ternyata mantan pacarnya Riyu yang kadang menghubunginya tengah malam. Laki-laki itu menyapa dan melontarkan beberapa pertanyaan, namun Ayumi hanya menjawab seperlunya dengan nada datar.
Beberapa saat kemudian ia mendengar ada suara lain dibalik suara Riyu. Ia pun tak terlalu memperhatikan suara itu. Namun suara itu semakin ketara. Suara itu mengingatkannya pada seseorang yang tak asing pula. Ayumi bimbang. Sejenak diam, Riyu pun melontarkan peranyaan lain, seperti memberi petunjuk. Ayumi pun semakin bimbang. Ia semakin tertekan. Ayumi langsung menjauhkan handphonenya dari telingga. Ia pun semakin bimbang. Ia tak kuasa mendengar suara itu. Dan Riyu pun akhirnya menutup telephonenya.
Malam itu Ayumi sangat kacau. Berbagai hal berkecambuk dalam otaknya. Ia sedih, ia bimbang, ia merasa tak berdaya. Ia pun meneteskan beberapa air matanya. Ia sedih, kenapa dimasa kedewasaannya ia tetap bergantung pada orang tuanya dan tak bisa berbuat apa-apa. Ia sangat takut, takut mengecewakan semuanya. Suara itu, menghantuinya. Ia ingat betapa berat hidup ini, ia ingat beapa keras perjuangan orang tuanya sampai bisa membesarkannya sampai saat ini.
Ayumi punya impian yang cukup tinggi, namun ia ragu apa impiannya bisa ia capai. Semakin hari, dunia serasa semakin berat. Keberuntungan yang dianggap selalu berpihak padanya pun ia rasa telah jauh. Sering ia hanya bisa menangis. Menangisi dunia yang terasa semakin berat ditiap pertambahan umurnya.[]


0 comments:
Post a Comment