
Tak lama lagi hujan pasti akan turun. Awan yang begitu gelap, petir pun terus menyambar apapun yang ditemuinya dilangit. Mungkin alam sedang gelisah. Kegelisahan yang tak pernah usai seperti diriku ini.
Sekitar dua bulan yang lalu, situasi ini sama ketika aku berkunjung kerumah Wiwied, mantan pacarku. Langit begitu gelap, memberi tanda kegelapan hidupku waktu itu. Aku tahu dia selingkuh. Tapi aku diam. Karena memang aku tak mengharap dia mengakui itu semua.
Aku takut. Ketakutanku ini membuat aku bisu. Dia melambaikan tangannya padaku, sepertinya dia amat senang menyambut kedatanganku. Secapat kilat diapun membawaku kerumahnya. Dia sangat hangat waktu itu. Namun aku tetap bisu. Aku kecawa dengan keadaan ini. Tiap aku datang kerumahnya aku masih menemui foto yang katanya mantannya. Dan tiap bercerita aku seperti mendengarkan cerita-cerita horror. Haror tentang teman perempuan yang sering main kekomplek itu.
Persis di depan rumahnya ada sebuah bangunan kecil dari bambu yang mirip seperti rumah panggung. Rumah itu terdiri dari dua bilik. Cat merah menghiasi seluruh bangunan itu. Aku sendiri belum pernah masuk kedalam tempat mungil yang katanya selalu rame ditiap sore dan malam itu. Katanya, ada seorang perempuan dari lain RW yang suka main disitu, lia namanya. Kata dia Lia anak yang cukup supel dan enakkan. Entah enakkan yang seperti apa. Hampir semua laki-laki yang suka nongkrong disitu tahu dan mengenal baik dia.
Kata Wiwied dia juga suka minum, alcohol maksudnya. Pernah suatu ketika ibunya mencarinya kesitu. Karena dua hari dia tak pulang. Sentak ibunya kaget setengah mati dan tak bisa marah melihat anaknya yang keluar dalam keadaan mabuk berat. Ibunyapun langsung membawanya pulang. Dan yang lebih mengerikan lagi katanya dia suka digilir (ML) oleh semua laki-laki yang berada dikomplek itu. Ya, Wiwied juga mungkin. Tapi dia mengelak didepanku. Dan itu membuatku takut.
Beberapa saat kemudian dia menawariku sekaleng bir, namun aku menolaknya. Diapun marah, marah karena aku menolak pemberiannya. Aku terus mencoba menenangkannya, namun dia tetap marah.
Sepuluh menit kemudian aku diantarkannya pulang kerumah, entu dengan perasaan yang kecewa. Aku pun kecewa, hanya karena bir dia semarah itu.
Keesokkan harinya aku beranikan diri untuk menemuinya. Namun aku tak menjumpainya dirumah. Akhirnya aku menuliskan sebuah pesan singkat yang intinya aku ingin mengakhiri hubungan ini. Aku langsung pulang, aku hanya menemui kakak perempuannya yang hari itu kebetulan sedang ada dirumah. Diapun sempat membaca pesanku tadi, dan dengan nada sok keibuannya dia bertanya ‘ kenapa, ada apa dengan kalian? Aku hanya menjawab dengan senyum sinisku.
Malamnya aku bertemu dengan salah satu anak yang sediki banyak mengenal Wiwied. Dan aku menceritakan semuanya padanya. diapun mendukung keputusanku untuk memutuskan Wiwied karena memang katanya dia itu terbilang cukup nakal.
Aku lega telah melepasnya. Aku senang. Dua minggu kemudian Wiwied menemuiku dirumah. Untuk meminta penjalasanku. Setelah beberapa saat aku jelaskan dia pun hanya mengatakan maaf. Dan dia ingin memperbaiki dan memintaku untuk kembali. Wiwied masih sering kerumahku, walaupun sekarang aku hanya menganggapnya teman. Suatu hari dia mengantarkan sebuah undangan pernikahan kakaknya. Akupun datang keundangan itu. Disana ada seorang perempuan yang sekilas aku tahu, nungkin kekasih Wiwied. Diapun menyambutku, ‘tamu istimewa ni?’ aku tetap diam dan tak ambil pusing dengan perkataannya. Aku duduk dibarisan tamu nomor dua. Wiwied dan teman-temannya menyambutku dengan sangat gembira. Ake sempa becanda ria dengan teman-temannya, ya aku lebih tertarik ngobrol dengan temannya ketimbang dengan Wiwied. Sepulang dari acara itu aku diantarkan oleh teman Wiwied pulang, akupun sempat mampir sejenak.
Dalam perjalanan pulang, aku merasa sangat berat sekali. Ada satu beban yang sampai saat itu belum tertumpahkan. Akupun tak langsung pulang, seperti biasa saat hati ini kalut aku selalu melampiaskannya pada jalanan. Aku bisa saja tak pulang seharian hanya mengintari jalanan sampai manapun dan sampai aku puas. Aku sangat kecewa padanya.
Selang satu bulan akupun mendapat kabar baru dari teman Wiwied, kalau dia akan segera menikah. Ya, aku telah siap. Konon katanya pihak perempuan telah hamil dan terpaksa mereka harus menikah walaupun mereka belum siap dan melangkahi kakak pertamanya yang sebenarnya dialah yang berniat menikah pada bulan itu. Setelah itu aku tak tahu bagaimana kabar selanjutnya. Karena akupun mulai melupakannya.
Terkadang aku binggung dengan semua orang, mengapa sebegitu gampang mereka menyakiti. Bukannya aku sok suci tapi disetiap tindakkanku aku selalu mempertimbangkan orang terdekatku. Dan jika aku sendiri melakukan kesalahan itu karena keterbatasanku menerima keadaan.
Terlarut dalam kebimbangan kadang bisa menyeret orang kedalam jurang kesalahan. Aku pikir itu tak semata-mata kesalahanku. Itu juga karenamu, karena orang disekitarku, dan bisa saja orang terkasihku. Aku menyadari betapa orang bisa merasakan sakit yang sedemikian.[]


0 comments:
Post a Comment