
Semenjak ‘hot spot’ area mulai bermunculan diPurwokerto marak pula penggunaan internet sebagai media hiburan baru yang cukup digandrungi mahasiswa. Khususnya bagi mereka yang memiliki laptop pribadi. Terlebih lagi harga laptop sekarang mulai terjangkau untuk kanong mahasiswa sehingga banyak pula mahsiswa yang beralih menggunakan laptop dari pada komputer.
Disatu sisi, hal ini merupakan suatu tanda kemajuan yang cukup menakjubkan. Bagaimana tidak, kini kampus mulai ramia dihuni mahsiswa yang tiap malam rela kedinginan dan rela melek sampai pagi. Namun akhir-akhir ini aku cukup khawatir dengan media yang satu ini. Internet, dengan semua tawaran dari blog, friendster, facebook, e-mail dan tawaran-tawaran menggiurkan lainnya dengan seketika bisa membius seseorang layaknya orang kecanduan narkotika. Bedanya narkotik illegal sedangkan bermain diinternet legal.
Di ruang maya itu semua orang bisa mengenal orang dibelahan dunia. Hanya dengan memantengi layar semua orang bisa bertukar berbagai informasi bertatap muka lewat webcam, dan ngobrol sesuka dan sekuat mereka tanpa ada batasan waktu dengan chating.
Dulu, waktu pertama kali aku mengenal internet, chating khususnya aku merasa sangat senang. Selain mendapat teman baru juga bisa mendapat kepuasan lewat ungkapan kata yang kadang membuat orang berpikir lebih jauh untuk berkenalan langsung.
Aku masih ingat beberapa waktu lalu aku pernah medapat beberapa teman chating yang akhirnya kamipun berkenalan secara langsung. Lama kelamaan akupun bosan, dan terlebih lagi ketakutanku jika aku pada titik tertentu entah sengaja atau tidak menemukan sosok lain seperti kekasihku. Karena pada saat itu dan sampai sekarang aku masih punya kekasih.
Dan saat ini, aku rasa banyak orang yang mulai kecanduan barang yang satu ini. Hingga sampai larut malam mereka rela kedinginan dilantai gedung G fakultas ekonomi atau di gedung Rudiro Unsoed atau bahkan menghabiskan malam-malamnya di kafe-kafe hotspot area. Sebenarnya tak ada yang salah bagi pecandu-pecandu itu. Namun apa mereka tak pernah memikirkan kesehatan mereka. Tak penting mungkin bagi mereka, tapi bagiku yang pernah merasa kehilangan seseorang yang aku sangat sayangi itu penting. Karena proses pelapukan itu berlangsung sangat pelan dan tak terasa sakit. Begitu halus sampai kita tak bisa menyadarinya.
Disisi lain, ada ketakutan lain yang selalu menghantuiku. Bagaimana jika saat chating, bermain friendter atau facebook kita terjebak pada satu titik dimana kita lebih menikmati itu daripada dunia nyata yang kita jalani tiap hari. Atau mungkin dunia maya itu pelan-pelan melaku kearah kita, kearah dunia nyata kita. Yang mungkin saja memberikan bangunan baru pada hidup kita tapi dengan itu bisa saja mereka telah menghancurkan bangunan lama yang kita dirikan bersama.
Apapun itu, karena dunia itu begitu dekat dengan mataku. Aku kadang dituntut untuk siap bahkan siap melihat duniaku yang hancur. Semoga itu hanya ketakuanku.[]


1 comments:
ini tulisan yang sempurna. pilihan kata dan susunan frasanya enak dibaca.
Post a Comment